Tuesday, September 26, 2017

Taman Kenangan

Setelah bertahun tahun aku pergi, akhirnya aku kembali ke kota ini.  Akupun pergi bukan tanpa alasan, sebabnya adalah perasaan terhadap seseorang itu selalu muncul ketika aku melihat berbagai macam hal disana. Kini aku pulang berharap tak ada lagi perasaan itu.

Namaku adalah donna, umurku 35tahun, aku belum menikah dan mengurungkan niatku untuk menikah. Entah kenapa ketika kekasihku melamarku aku katakan tidak padanya. Aku berkerja freelance,  mendesain rumah dan Taman.

Perasaan kembali ke kota ini rasanya ada sedikit rasa rindu yang dilepaskan dan ada rasa sedih. Beberapa kenangan terlintas dibenakku. Tentang masa kecilku, teman-temanku dan bahkan kau. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengistirahatkan pikiranku, namun bayangan orang-orang terdekatku tiba-tiba saja muncul.

Sesampainya dirumah aku langsung bersiap. Aku ingin melihat wajah sahabat-sahabatku walau dari jauh. Aku ingin melihat wajah kota ini.

"Donna,  istirahat lah dulu. Baru nanti kau berkeliling,  tampaknya wajahmu sedikit pucat. "
"Tak apa ma. Aku sangat rindu kota ini. "

Aku berkeliling dengan motor adikku. Tak selancar dulu memang,  karena hampir 10tahun aku tak berkendara motor. Pelan saja kecepatan motorku, sambil Melihat perubahan-perubahan gedung, Taman dan orang-orangnya. Entah tiba-tiba tanpa aku sadari Aku datang ke Taman yg kita buat.

Disana pepohonan yg kita tanam sudah sangat rimbun, membawa angin sejuk untuk berputar-putar disana. Bunga begitu cantik menghiasi jalan jalan setapaknya. Toko toko dan penyewanya masih orang sama. Makanan dan rasanya persis seperti dulu.

Aku memberanikan diri untuk melihat lebih dekat,  melangkahkan kaki dengan perlahan. Menghirup udara dalam-dalam. Aku teringat ketika kita beradu pendapat soal warna bunga. Akhirnya kau yang mengalah seperti biasa. Bunga Mawar putih dan kuning yang akhirnya kita tanam disana. Tanpa sadar aku memandang sebuah sepedah listrik. Berwarna emas dan bertulis Taman emas. Sepedah itu tak terawat, bannya kempes dan beberapa bagian berkarat.

Aku berlari menjauhi tempat itu sampai menabrok seseorang.

"Donna, kau sudah kembali? "
"Alin? "
"Oh syukurlah kau sudah kembali,  mari ikut aku. "
"Tidak aku mau pulang. "
Alin justru menarikku mendekati tempat tadi aku terpaku.
"Bu sun,lihat ini siapa yang datang?"
"Anakku donna. Ibu sangat rindu kamu nak. Kenapa tidak memberi kabar selama ini? "
Tangisku tumpah, bu sun bukanlah ibuku tapi dulu hampir setiap hari kami berkreasi ditempatnya, menyiapkan acara, membahas pekerjaan. Beliau sudah menganggap kami ini anaknya.
"Maaf kan saya bu. "
"Lihat ini sepedahmu sampai rusak karena tak pernah terpakai,  kau ingat foto ini?  Foto pertama hari terakhir pengerjaan Taman ini? Ibu selalu sedih melihatnya, karena kau dan zul tidak ada."

Aku menyentuh foto itu, memperhatikan setiap ekspresinya disana. Kami sangat bahagia saat itu.

"Kenapa kau pergi nak? "
"Maafkan saya bu saya tidak bisa bicara soal itu. "
Aku terus saja memandang foto itu. Lalu aku teringat soal sepedah.  Aku mendekatinya dan menyentuh stangnya.

"2 hari setelah kamu pergi, zul datang,  ia duduk terus disana sesekali dia membersihkan sepedah itu kadang sekedar menyentuhnya saja. Ibu mencoba bicara dengannya beberapa kali tapi setelah menunggu berbulan-bulan akhirnya iya menitipkan sepedah ini. Berpesan ia kepada ibu. Jangan dipindahkan, mohon dijaga sampai kau dan ia kembali bersama."
aku tau beratnya bu sun menceritakan kejadian itu.

alin memelukku. "Ada apa dengan kalian sebenarnya? "
"Kami memutuskan berpisah."
"Tidak mungkin kau sangat dekat dengannya,  apa kau tak merasa berat melepasnya? "
"Dia yang meninggalkanku terlebih dahulu. Ingat kah ketika aku menghancurkan semua bunga Mawar itu?  Hari itu dia menikah, tidak memberi tahuku sama sekali, tidak pula menceritakan soal rencana itu. Aku merasa dikhianatinya. Kami sudah berjanji saling jujur tentang apapun itu, tapi dia mengingkarinya.
"Maaf aku tak tahu soal itu,  aku baru dengar dia sudah menikah ketika dia tak muncul lagi disini, dia menutupnya rapat-rapat soal itu. "
Aku bangkit dan menghapus air mataku.
"Aku tak bisa berlama-lama disini. "
"Ah tunggu aku ingat dia menitipkan 2 amplop kepadaku. Sebentar aku cari dulu. "

Alin masih sempat mengajakku bercanda. Dia memberiku pilihan 2 amplop. Berwarna coklat dan pink. Aku memilih yg coklat lalu membaca isinya.

Dalam setiap kisah manusia akan ada putusnya silahturahmi tapi tak ada hilangnya kata sahabat.

Aku terdiam. Merenung sebentar. Lalu menatap alin. Alin langsung memberiku amplop yg lainnya.
"Buka yang ini juga,  pilihanmu tepat seperti perkataannya. "

Aku salah, aku yang duluan meninggalkanmu. Aku pula yang salah berpaling. Aku menyadari kesalahanku dan menerima hukumanku. Menunggumu.

Aku langsung meninggalkan alin.  Mencoba menahan air mataku agar tak keluar. Alin menarikku dan berkata.
"Dalam waktu dekat dia pasti datang,  pasti ada seseorang yg menyampaikan kepulanganmu padanya." alin berteriak kepadaku.

Aku mencoba mencari jawaban di hatiku, tapi pikiranku yang berkata, sudahlah lupakan saja.

AKu mengurung diri dikamar. Membaca buku-buku lamaku. Lalu seseorang datang dan memberikan kabar kalau bu sun mengadakan selamatan di warungnya. Dan mengundangku untuk datang. Aku sudah menolaknya tapi orang itu terus saja memaksaku berkata iya akan datang.

Dengan berat hati aku datang kembali ke Taman itu.
Ketika sampai disana, warung itu sudah ramai. Karpet sudah digelar. Rata-rata yg duduk adalah anak-anak muda yg tak aku kenal.  Tapi ketika aku mengucapkan salam pada bu sun, dan beliau memanggil namaku semua mata tertuju padaku, semua suara menghilang begitu saja. Aku melihat mereka dan mereka kemudian berbicara lagi.

Kali ini aku tak melihat sepedah itu terpajang di depan warung. Tapi diletakkan di samping warung, dengan keadaan lebih bersih. Ketika aku terpaku pada motor itu seseorang menepuk pundakku.

Samil tersenyum. Samil adalah orang pilihan kami untuk menjaga keadaan Taman itu. Aku langsung memeluknya dengan senang hati. Tubuhnya tampak lebih besar dari dulu ketika kami bersamanya. Samil tersenyum lalu berbisik.
"Aku sangat rindu sahabatku yang satu ini. "

Selama pengajian aku terus terbayang soal zul. Dan mataku selalu tertuju pada sepedah itu. Sepedah yang dulu kita buat dengan susah payah dan kita naiki sambil tertawa. Mengingatnya bukan membuatku tertawa tapi aku menangis tanpa suara.

Sudah hampir sebulan aku tinggal. Aku jarang keluar rumah. Sesekali alin dan samil mengunjungiku. Mengajakku bercanda dan tertawa.

Ketika aku menemani ibuku ke supermarket aku bertemu seseorang yang aku tak ingat siapa dia. Dia hanya bilang, zul akan kembali untuk ku.
Aku tak menghiraukannya.

2 minggu kemudian alin meneleponku. Mengatakan zul sedang sakit parah di rs. Alin memaksaku untuk datang. Dia menjemputku,  Akhirnya aku kuatkan diri untuk datang.

Sampai di rs aku seperti kehilangan kesadaran, aku hanya mengikuti tarikan tangan alin. Aku tak percaya kalau keadaan dia seperti yang diucapkan alin.
Aku lihat kami menuju ke ruangan ugd. Dari pintu aku bisa melihatmu. Kurus, pucat, tirus berambut sangat pendek. Aku tak kuasa menahan tangisku. Kenapa keadaanmu seperti itu.
Aku mendengar kau meronta ronta, Menjauhkan setiap tangan yg mencoba menyentuhmu dan yg membuat aku kaget adalah ketika kau justru memanggil namaku. Terus dan trus kau ucapkan namaku.

Seorang perempuan yg berdiri tak jauh dr orang tuamu kaget ketika kau memanggil namaku. Dia langsung menagis bersama ibumu. Aku berbalik badan dan hendak pergi tapi alin mencegahku. Hampir setengah jam aku melihat kau berontak dan penanganan dokter akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatimu. Menamparmu lalu memakimu.

"Kenapa memanggil namaku? Apa kau tak bisa hanya sebut nama istrimu. Kenapa juga kau bertingkah seperti ini. Biarkan dokter bekerja."
"Donna, kau kembali, kau datang kepadaku. Kekasihku kembali, sahabatku kembali, aku sudah sehat, aku sudah dapatkanlah jiwaku kembali. " lalu dia pingsan dan aku ambruk saat itu juga.

Ketika sadar aku telat berbaring ditempat tidur, aku bangun perlahan tapi tiba-tiba alin muncul dan mencegahku untuk bangun.
"Tunggulah kalau kau ingin pergi, biarkan zul tenang dulu dan diobati baru kita pulang. "
"Zul sakit apa? "

"Aku sehat sayang,  aku masih kuat seperti dulu. " suara zul menyela pembicaraan kami.
Alin berbisik kepadaku. "Sejak dia tidak muncul ketaman, entah mengapa dia langsung drop dan sering berhalusinasi. "
Tanpa sadar aku menyebut namanya, "Zul. "
"Ya tenang saja. Nanti kau boleh memakiku sesuaku. Kau boleh marah sesukamu. Tapi jangan pergi lagi.
Alin berbisik lagi kepadaku. "Zul menceraikan istrinya beberapa tahun lalu. "
"Zul kenapa kau menyakiti dirimu sendiri, bodohnya kau zul, bodoh. apa kau berpura-pura agar aku datang kesini? "
"Akan aku lakukan apapun agar kau kembali. "
Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan membuka tirai diantara kami. Tanpa sadar aku langsung menamparnya. Dia justru tersenyum.

Tak kuasa aku menahan perasaanku. Aku memeluk zul. Menangis dalam pelukannya dan zul menarik ku erat dalam peluknya.


Dia cuma berkata aku sudah menunggumu bertahun tahun kenapa kau sama sekali tidak menanyakan kabarku. Setiap hari aku datang dan menghabiskan waktuku dirumah ini. Setiap kau telp orang tuamu aku turut mendengarkan tapi tak ada namaku dalam ucapanmu.

Aku jatuh pingsan. Ketika aku sadar aku melihat dia disampingku bersama keluargaku dan keluarganya. Ibunya mendekati aku. Berkata terimalah putranya, ia sudah menerima hukuman nya selama ini. Dan dia sudah bercerai dengan istrinya.

Istrinya mendekatiku, mbak jangan jadikan aku penghalang lagi. Terima saja dia dan jadilah ibu bagi anakku. Aku menutup mata lalu memalingkan wajah.

Ibuku berkata,  sudah cukup keegoisan kalian berdua, kalian saling mencintai dan membutuhkan tapi kenapa sifat keras kalian menjadikan kalian seperti mayat hidup selama ini.

Aku hanya memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur, perkataan mereka benar dan nyatanya aku lelah berpura2 kuat berjauhan dengannya.
Dia berbaring dibelakang ku.  Memelukku dan mencium bahuku. Aku tertidur lelap hingga esok pagi.

Setelah itu kau selalu ada disisiku. Memelukku dan memegang tanganku. Walau kita tak banyak bicara tapi seperti sudah hilang kenangan buruk kita. Kau mengajakku ke Taman kita. Kau membetulkan keadaan motormu. Aku memandang kau setiap waktu.

Beberapa hari kemudia motor itu sudah bisa jalan. Kau mengajak ku berkeliling, semua orang menyapa kita dan kita tertawa kembali

No comments:

Post a Comment