Tuesday, July 24, 2018

Buronan

1. Buronan

Wanita itu berjalan sendirian menelusuri pinggir kali, entah apa yang ia pikirkan, air matanya tak berhenti menangis, suaranya parau menggumamkan nama Pasha.

"Sebuah kasus mengejutkan, seorang ibu telah tega membunuh anaknya sendiri dan pelaku kini sedang dalam pencarian polisi, berikut kami tampilkan foto pelaku." Sebuah berita di tv menayangkan foto seorang foto perempuan bersama anak kecil yang menjadi korban.
"Shasa?"
"Kamu kenal dengan wanita pembunuh itu?" Suara wanita mengejutkan Jul.
"Ya."
"Dia memang jahat atau gimana?"
"Dia sangat baik."Jul segera pergi dan mematikan tv. "John siapkan mobil."
"Pulang jam berapa Mas?"
"Bukan urusanmu."

Dalam perjalanan.
"John siapkan orang, cari wanita yg dituduh membunuh seorang anak, yang diberitakan hari ini." Jul berbicara sambil mencatat sesuaty dalam bukunya.
"Baik bang, hidup atau mati?"
Jul kaget mendengar ucapan John.
"Tanpa lecet sekalipun. Bawa dia ke kantor segera."
"Baik bang."

Jantung Shasa berdegup kencang, ia juga tak sanggup lagi mengatur nafasnya, rasanya dada dan seluruh tubuhnya terbakar, ia tak tahu harus lari kemana lagi.
"Siapa mereka? Polisi?"
Samar-samar terdengar langkah kaki mendekat ke arah Shasa bersembunyi. Ia hanya bisa pasrah, matipun mungkin lebih baik baginya.
"Mbak Shasa ikut saya, saya tak akan menyakiti mbak, saya diminta abang saya membawa mbak ke tempat aman."
Tempat aman? Apa maksudnya? Siapa mereka?
"Mbak Shasa, tolonglah keluar saya tidak akan menyakiti mbak."
Shasa yang tak sanggup lagi berlari, menyerah dan keluar dari persembunyiannya.
"Siapa kamu? Polisi?"
"Bukan Mbak, saya bukan polisi. Saya hanya orang suruhan, saya diminta abang saya membawa mbak ke dia."
"Siapa abang yg kamu maksud?"
"Jul."
Shasa seketika itu juga roboh, sedikit lega hati dan tubuhnya mendengar nama itu, nama yang sudah lama hilang dalan hidupnya.
"Jul?"
"Mari mbak ikut saya, saya tak akan menyakiti mbak." Laki-laki besar itu menghampiri Shasa dan memvantunya berdiri kembali. "Jangan lari lagi ya mbak, saya capek."
Shasa hanya terdiam ketika dibawa masuk ke dalam sebuah mobil.
"Kembali semua." Perintah John kepada beberapa laki-laki.

Ketika sampai disebuah gedung drngan halaman yang sangat luas, Shasa hanya memandang keluar jendela tanpa memikirkan apa yang dilihatnya.
"Shasa." Jul sendiri yang mengahampiri Shasa masuk ke dalam mobil.
Seketika itu juga tangis Shasa pecah, "Aku tak membunuh anakku. Aku bukan pembunuh, aku tak membunuh anakku."
"Ya sayang, aku tau kau tak akan sanggup melakukan kejahatan seperti itu." Jul langsung memeluk Shasa dan mencium keningnya.

Diluar mobil para laki-laki yang berjaga mencuri-curi kesempatan melihat ke dalam mobil, melihat kejadian apa dan mencoba memahaminya.
"John, bang Jul punya hubungan dengan wanita itu?"
"Entahlah, bang Jul tidak berkata apa-apa soal itu. Sudah diam dan jangan melihat ke arah mereka lagi."

Shasa turun dari mobil digandeng Jul, erat genggaman tangan Jul, pasti tapi tidak mengakitkan Shasa.
"Kau tinggal disini, kau akan aman, jangan takut, aku akan menjagamu." Jul merangkul Shasa memasuki sebuah ruangan, "Ini ruanganku, disana kamar, kau bisa tinggal dan istirahat disini, kau bisa melihat keluar tapi mereka tak akan melihatmu, jadi jangan khawatir, kau aman disini."
"Jul sumpah aku tak membunuh Pasha."
"Iya aku tahu kau tak mungkin melakukan itu, sekarang kau harus tenang dan beristirahat, bisa kamu bersihkan diri dan segera aku siapkan pakaian bersih untukmu."
"Jul aku tak membunuh anak kita."
Perkataan Shasa itu seperti sambaran petir disiang bolong, mengejutkan dan terasa menyetrum seluruh badan Jul.
"Apa yang kamu katakan tadi?"
"Pasha anak kita, aku tidak membunuhnya."
"Pasha anak kita? Bagaimana mungkin?"
"Sebelum aku menikah, nyatanya aku tengah mengandung anak kamu, orang tuaku membawaku keluar kita sampai aku melahirkan setelah itu Gilang baru menikahi aku."
Jul jatuh terduduk di karpet, benar-benar seperti disambar petir tubuhnya.
"Gilang marah besar mengetahui hal itu, ia merasa dibohongi, tapi sampai saat sebelum kematian Pasha, ia tak mau menceraikanku."
"Kenapa kau tak memberitahuku?"
"Aku tak tahu harus mencari kau kemana, akun sosmed semuanya kamu hapus, aku pun tak bisa menghubungi kamu."
"Maafkan aku Shasa."
"Tapi sumpah Jul, aku tak pernah menyakiti Pasha. Aku sampai saat ini juga tak mengerti apa yang terjadi, siang itu aku hendak makan siang bersama Jul, hanya dengan sisa uang kami hanya bisa membeli seporsi bakso, sebentar saja Pasha aku tinggal mengobrol dengan tetangga aku menemukan ia sudah tergeletak kejang dan berbusa mulutya, aku tak tahu apa yang terjadi saat itu, aku segera minta bantuan tetanggaku untuk mengantarnya ke rumah sakit, dokter bilang Pasha keracunan racun tikus, padahal tak ada sama sekali racun tikus ditempat tinggal kamu, Pasha tak bisa diselamatkan, pihak rumah sakit memanggil polisi, dan entah bagaimana aku langsung ditetapkab sebagai pelakunya."
"Sudah Shasa ini bukan salahmu, ini salahku yang tak mencoba melindungi kalian, aku yang salah." Jul menangis sambil memeluk Shasa.

Berkali-kali telepon berdering tak sekalipun Jul angkat atau hiraukan, sepanjang malam ia hanya memeluk Shasa yang tertidur, betapa perih hatu Jul melihat Shasa seperti ini, dalam tidurpun terasa perasaan takut dari diri Shasa, gumaman nama Pasha terus terdengar lirih hingga Jul yg mendengarnya menangis.

Pagi itu Jul dikagetkan oleh bel dikantornya. Ia langsung bangun dan keluar ruang tidurnya. Melihat seorang wanita masuk sambil marah-marah Jul hanya menatap sinis.

"Oh begini ya kelakuan kamu kalau dikantor, bukan kerja tapi ngelonin perek."
"Masih pagi. Jangan buat keributan, pulang sana, saya banyak kerjaan." Jul mengambil segelas susu dari kulkas dan meminumbya beberapa teguk.
"Heh wanita mana yang gak sakit hati kelakuan suaminya kaya hidung belang, bajingan." Wanita itu terus saja berbicara keras dan menunjuk-nunjuk muka Jul.
Jul menepis tangan wanita itu dan langsung mengambil telepon. "John bawa dia pulang."
Seketika itu juga John dan beberapa orang masuk ke ruangan dan menghampiri wanita itu.
"Mari bu saya antar pulang."
"Heh gak usah ikut campur, ini urusan saya dan suami saya."
"John, mulai hari ini dia tidak saya perkenankan masuk ke ruangan ini, bukan, jangan sampai dia masuk ke gedung ini."
"Baik Bang." John memaksa wanita itu keluar ruangan.
Jul menuang kembali susu digelasnya dan membawanya ke ruangan dimana Shasa berada. Ia mendapati Shasa berdiri menghadap jendela, melihat keluar wajahnya tapi tatapannya kosong.
"Shasa," panggil Jul lembut, "Lupakan kejadian buruk, aku sudah disini."
Shasa kaget ketika Jul memeluknya.
"Kenapa?" Jul meletakkan gelas susu yg tinggal setengah isinya karena tumpah.
"Maaf aku kaget tiba-tiba."
Jul tersenyum lalu menarik tangan Shasa. Menariknya duduk dipangkuannya.
"Ingat dulu aku sering memangkumu seperti ini?"
Shasa mengangguk pelan.
"Tenangnya hatiku ketika kau berada di pangkuanku, semua penyesalan dan kekecewaanku hilang."
Shasa menarik napas panjang dan memeluk Juk. "Aku dengar sekilas perkataan istrimu."
"Dia tidak akan membahayakanmu, dia cuma pendamping pengganti, tidak bisa mengambil tempatmu disisiku."
Jul merebahkan dirinya dan menarik Shasa tertidur didadanya.
"Andai kita bisa terus bersama saat itu."

2. Jul dan pembunuh bayaran
Pagi itu Jul sudah berpajaian rapih, duduk sambil minum kopi mebyaksikan berita pagi.
"Kasus pembunuhan anak di kota A berlanjut, sang ayah menuntut pelaku yang merupakan istrinya, suami pelaku telah memasukkan laporan ke polres kota A."

Tampak di layar seorang laki-laki marah dan menangis bergantian.
"Dasar wanita biadab, teganya dia membunuh anaknya sendiri, padahal kurang apa anaknya, anaknya pintar, ceria, tidak pernah badung, saya sangat menyesal hal ini sampai terjadi tapi saya tidak akan membiarkan arwah anak saya tidak tenang, saya akan memberi pelajaran kepada wanita itu."

Klik, Juk mematikan televisi dan meminum kopinya.

"Mau kemana kau sudah rapi jam segini."
"Aku ada urusan."
"Alah paling soal cewe itu."
"Sudah diam kamu, atau balik sana ke kotamu."
"Kau mengusirku?"
Jul pergi meninggalkan wanita itu.

"John, si abang berantem lagi sama bininya, kapan sih mereka akurnya? Padahal kalau sama yg itu tuh mesra banget, digandeng, dirangkul, bicaranya pelan, halus gak kaya sama bininya."
"Hus masa bos sendiri lo gosipin, itu urusan mereka, lo jaga tuh mulut, kalo abang tau lo bakal tinggal nama."
"Yah lo mah nakutin aja, jangan kasih tau abang ya, plis, gw tutup mulut deh."

Jul datang membawa sebuah tas menghampiri John.
"Bagus pergi aja sama wanita pelacur itu, gak usah balik lagi kesini, gak usah kamu ketemu Riza."
Jul menatap Lina tajam, "Jaga mulutmu, kalau harusnya diam, kalau tidak mau hidup menderita."
"Apa kamu ngancam aku?"
"Kenyataannya kamu tidak bisa hidup mandiri."
"Baik akan aku buktikan, aku gak bakal minta uang kamu, aku akan pergi dari sini, kamu mau cerai silahkan, kita ketemu dipengadilan."
"Silahkan pergi tapi Riza tetap bersama saya." Jul langsung memberi kode ke John untuk membawakan tasnya. "John suruh yang lain mengamankan Riza, jangan sampai dibawa Lina.
"Baik."

Lina yang melihat sikap cuek Jul langsung mengamuk, Vas dilempari kearah pintu, semua yg didekatnya dibanting, tak ada yang menghentikannya. Tapi sayang Lina tidak sadar bahwa Riza telah dibawa pergi tak lama setelah Jul pergi.

"Sha, kita cari rumah, kamu mau?"
"Aku tak beranu keluar, aku gak mau masuk penjara, aku tidak membunuh Pasha."
"Kita butuh tempat tinggal yang lebih besar, anakku akan tinggal bersama kita."
Shasa melihat Jul dengan bingung, "Istrimu?"
"Aku akan menceraikan dia."
"Gara-gara aku?"
"Bukan, hubungan kami memang dipaksakan. Sudahlah kau tak usah memikirkan itu, pikirkan saja kau ingin rumah seperti apa. Ini hakmu sebagai wanita yang dulu aku sia-siakan."
Shasa menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya.

"Halo Pak Kif, saya butuh bantuan anda, segera datang ke kantor saya."

Jul kembali ke kantornya, mengerjakan sesuatu.
"John."
John segera muncul dari balik pintu.
"Kumpulkan beberapa orang, cari tau soal laki-laki yang menuntut dia, cari semua keterangan soal kasusnya dan kejadian sebenarnya."
"Apapun caranya?"
"Ya, lakukan sebisamu."

"Pak Kif, lama tidak bertemu ya, bagaimana kabar anda?"
"Baik Pak Jul, ada apa nih mendadak sekali ingin bertemu saya?"
"Mari duduk dulu, sebentar saya buatkan kopi untuk anda."
"Ah tak usah repot-repot Pak Jul."
"Silahkan duduk Pak." Jul mengambil cangkir didekat mejanya, "Pahit?Manis?"
"Manis saja pak."
"Jadi begini Pak Kif, saya ingin mengajukan perceraian, bisa bantu saya?" Jul menuangkan air panas diserbuk kopi dan gula didalam cangkir.
"Bapak mau bercerai? Kalau boleh tau apa alasannya?"
Jul menaruh cangkir kopi di meja depan Pak Kif. "Saya mau bercerai, tak ada alasan khusus hanya saja saya tak punya waktu untuknya, tapi saya mau hak asuk Riza ditangan saya, bagaimana pun caranya, harta berikan saja 1/3 untuk nya dan 1/3 untuk Riza, tapi ingat banyak aset milik saya jauh sebelum menikah dengannya. Bapak bisa bantu?"
Pak Kif menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Saya bantu tapi saya tak janji cepat."
"Sebulan cukup? Saya mau bulan depan sudah cerai. Setelah itu masih ada lagi yang harus dikerjakan."
"Bapak mau secepat itu?"
"Ya, bapak bisa aturkan?"
"Saya usahakan."
"Oh iya minta tolong kenalan bapak yang punya rumah mewah, yang mau jual, datang ke saya, saya sedang cari rumah baru."

3.Jul dan shasa cinta lama terkuak
"Jadi benarkan kamu selingkuh dengan wanita pelacur itu?"
"Dia wanita baik-baik, saya yang membuatnya sengsara, dia ibu dari anak saya."
"Kamu gak inget Riza anak siapa? Aku ibunya, aku ibunya, aku istri kamu."
"Saya tak cinta dengan kamu, terima saja perceraiannya, bisa hidup kamu terjamin, gak usah takut miskin. Riza biar saya yang rawat."
"Tidak bisa."
"Sudah kau tunggu saja, tanda tangani berkasnya, pindahkan barang2 mu, nanti uang hak mu saya transfer."
Jul meninggalkan Lina yang menangis meraung-raung.

Shasa terbaring diranjang, badannya begitu dingin. Ia sakit sudah hampir satu minggu tapi panasnya tak kunjung reda. Jul duduk disampingnya sambil membaca buku dan sesekali mengecek handphonenya.
"Pak Jul, sidang selasa tanggal 26, saya sudah menyiapkan semuanya, bapak tinggal bawa mbak Shas."
"Ya Pak Kif, saya pasti datang, bapak pastikan saja semua berjalan dengan benar." Ucap Jul di handphone.
"Gimana keadaan mbak Shas, apa sudah baik?"
"Belum pak, masih demam, semoga secepatnya sembuh."
"Aamiin."
"Terima kasih pak, nanti saya hubungi kembali." Jul terlihat sangat senang, sebentar lagi dia dan Shasa tak perlu bersembunyi, Jul berharap mereka bisa membangun keluarga lagi.

Hp Jul berdering lagi.
"Ya John."
"Bang ini dibawah banyak wartawan."
"Usir saja mereka. Carikan juga villa di  anyer."
"Baik bang."

"Sana kalian pergi."
"Bagaimana keadaan mbak Shasa, kenapa blum muncul sampai saai ini?"
"Siapa sebenarnya pemilik tempat ini?"
"Apa hubungannya Pak Jul dengan mbak Shasa sampai mau membela mbak Shasa?
"Hai hai hai!!! Dengarkan saya, kalian tidak diperkenankan mengganggu disini, silahkan kalau mau tau sendiri soal itu tanya sana sama polisi, jaksa atau orang lain, sekarang pergi kalian." John meneriaki para wartawan itu sambil bertolak pinggang.

Jul memeluk Shasa, membelai rambutnya sambil memandang ke langit-langit. Pikirannya terbuai angannya sendiri. Buaian mengenai cerita-cerita lama dan cita-citanya yang lama terpendam.
"Jul."
Ucapan Shasa menyadalkan lamunan Jul.
"Ya, sayang ada apa?"
Shasa menutup matanya lagi dan lebih mendekatkan diri pada Jul.
Jul mencium kening Shasa, menyisir rambutnya yang menutupi keningnya, sekali lagi Jul memberi kecupan, dikeningnya, lama, mendalam dan membuai. Pipi, hidung, bibir Shasa tak lepas dari buaian Jul. Mereka terbuai dalam cinta lama.

Shasa membuka matanya, didapati Jul disisinya, samar-samar ia ingat buaian Jul padanya, membuat bulu romannya bangkit dan memberinya sedikit senyuman, kecupan ringan di dagu Jul dari Shasa dan mereka kembali terlelap.

No comments:

Post a Comment