Thursday, February 7, 2019

My wedding story 3

Tgl 12 agustus, pagi2 aku sudah repot ke salon, berharap kamu gk kecewa, tapi sayang baju yg dijait gk bagus, jd ya pakai yg biasa saja. Mungkin memang kita harus menunjukkan kita yg biasa bukan kita yg dipoles dan ditutup2i.

Aku lihat berkali2 wajah tegangmu. Entah apa kamu melihat aku tegang juga. Aku duduk disamping papa mama. Menjawab lamaranmu.

Stop here. Aku tak kuat menceritakan selanjutnya.

Batas sentuhan

Kita memang hanya manusia
Berlari menurut kehendak
Kita memang tak bisa memilih takdir
Tapi bisa memilih hati

Berlarilah kita ke arah manapun
Berbahagialah kita dengan siapapun
Bersyukurlah kita dengan apapun
Maka disanalah yg disebut hidup

Ada saatnya kita memilih jalan
Ada saatnya kita berhenti karenah lelah
Ada saatnya kita bersembunyi saat takut
Maka disanalah yg disebut hidup

Tawa tangis itu kita yang tentukan
Hati dan pikiran itu juga kita yg tentukan
Bukan takdir yg bisa dirubah
Kalau kita memiliki batas sentuhan

Kita berlari, saling mencari
Meninggalkan semua yang dipilih
Meninggalkan semua yg dikehendaki
Tapi kita tak bisa menembus batas sentuhan itu

Hanya bisa menatap
Hanya bisa berharap
Hanya bisa menahan
Batas sentuhan

Seperti kita berdiri berhadapan
Terhalang kaca bening nan luas
Tak dapat kita menjangkau ujung
Untuk melewati batas sentuhan

Manusia memang seperti itu
Banyak yg dikendaki
Tak mau memilih satu yg pasti
Tak mau meninggalkan yg lain

Jangan bersedih
Jangan putus asa
Bersabarlah
Berbahagialah
Kita jalan berdampingan dengan pilihan hidup
Selamanya selalu beriringan