Hidroponik

Wednesday, July 29, 2026

Dona-Rahman

Suatu hari aku ikut tetanggaku ngebesan ke suatu daerah, aku bersama beberapa tetangga mengobrol bersama. tiba-tiba datang serombongan laki-laki bersarung dan berpeci, mereka bersikap sopan dan berbicara dengan pelan. aku cuma memperhatikan dari jauh karena aku tidak kenal mereka. 

saat aku menikmati makanan suguhan tiba-tiba datang seseorang diantara mereka menghampiriku, " maaf mbak, mbak bernama Dona?"
"i.. iya, tau dari mana ya? anda siapa? "
"ini ada titipan dari abang Rahman. "
"hah... Rahman? Dimana dia? "
"Maaf mbak saya kurang tau dimana abang Rahman sekarang saya cuma dititipi ini beberapa hari lalu. "
"Kok dia bisa tau klo saya bakal hadir disini? "
"Waduh maaf sekali lagi mbak saya juga kurang tau soal itu? "
"Kamu dari mana? dan siapa nama mu? "
"Nama saya Andi mbak, dari pesantren yatim piatu A. "
"Oh ya baik Terima kasih, saya Terima titipannya ya. "

Ya Rahman, dia adalah seorang yang hadir dalam hidupku bukan untuk menemaniku tapi mengawasiku dari jauh. Kami sudah kenal lebih dari 20tahun walau hubungan kami tidak selalu baik tapi kami selalu memberi kabar. ya Rahman memang suka memberi kabar dengan cara aneh. 

Saat ini aku sedang hamil anak ketigaku, tiba-tiba timbul keinginan sebelum melahirkan ingin bertemu dengan bang Rahman, aku mengajukan permintaan ke suamiku. awalnya dia ragu memenuhi keinginanku tapi dia tetap setuju. 

"Sayang, kapan kamu mau mencari Rahman? "
"Belum tau, belum ada petunjuk. "
"Tunggu dalam beberapa hari ini ya, aku baru senggang. "
"Ok." Mataku masih tertuju dengan acara kuliner di tv. 

Halo pemirsa bertemu kembali dengan kami Jelajah Kota, sekarang kami sedang dikota B, tepatnya di daerah Gopi, disini terdapat sebuah langgar yang suka jadi tempat singgah anak-anak jalanan. Mari kita lihat ke dalam. 

"Lah bagus banget nih tempat mau tampung anak-anak jalanan. " Mataku masih tertuju ke tv. 

Sekarang kita ketemu yuk dengan pengurus tempat ini. 
Video bergulir menjauh mengambil gambar tempat itu, tidak seperti masjid hanya sebuah bangun persegi panjang dengan teras banyak pilar, lalu menyorot seseorang dari kejauhan dan perlahan mendekat. 

"Rahman! "
"Kenapa yang? " Suamiku melongok dari dapur. 
" Itu Rahman yang, dia dikota B didaerah gopi! " seruku senang sambil mengelus perutku, nak kamu bakal ketemu om mu, hihi walau bukan om beneran. 

Setelah suamiku senggang dari kerjaannya kami segera menuju kota B, kami menikmati perjalanan ini walau suamiku membawa mobil kamu sangat hati2 karena keadaan perutku yg sudah besar. Kami langsung menuju tempat yang beberapa waktu lalu muncul diacara tv, tidak sulit mencarinya karena tepat berada dipinggir jalan. Sebelum sampai sana kami menikmati dulu kulinee sekitar sana. 

"Mari mbak dicicipi dagangan saya. "
"Iya maaf bang lain kali ya" aku menolak tawaran pedangan itu karena perutku sudah kenyang tadi makan soto. "Pak maaf kenal sm pengurus tempat ini gk? Saya bisa ketemu gk? "
"Duh nyari bang Rahman ya? dia lagi gk disini, udah beberapa minggu ini gk disini. "
"Oh, abang tau gk dimana tempat tinggalnya? "
"wah kurang tau kalau itu mbak, dia biasanya tidur disini. "

Yah langsung lemas tubuhku rasanya, sudah jauh jauh kesini dia malah pergi. Ku ingat-ingat lagi surat yang diberikan beberapa minggu lalu. 

Kepada yang tersayang
Dona

Bagaimana kabarmu? Sebentar lagi kau akan melahirkan, jaga keadaannya mu, jika keadaan memungkinkan kita bertemu, mungkin tak lama lagi. Jaga keponakan ku. 
Aku disini sehat dan baik, aku sedang berusaha mendekati keponakan mu, lama aku tidak bertemu dengannya sekarang ia sudah berumur 10tahun, sudah hendak remaja. Agak sulit mendekati nya, tidak mudah dibujuk. 
Dona... aku rindu kau, kau baik-baik saja kan? suamimu memperlakukan kamu dengan baik kan? 
Ah andai saja aku yang di sisimu. 
tapi kau pasti bisa stress karena aku suka gk jelas pergi dan menghilang. 
Dona
dona
dona
ingin sekali mendengar suaramu. 
surat ini aku titip, semoga sampai ketangan kau. 
Semoga Alloh selalu menjagamu. 

"mana katanya mau bertemu, aku udah jauh-jauh loh kesini kamunya gk ada. " begitu gumamku. 
"Kita pulang atau kau ingin berkeliling? "
"ya sudah kita keliling saja. "
Suamiku memutari kota melihat-lihat kota ini, masih banyak bangunan tua, untung keadaan sedang tidak terlalu ramai tidak macet. 
ketika dilampu merah seseorang mengetuk jendela mobilku, menawarkan majalah.
Aku buka kaca jendelaku, "Berapa yang ini? "
"35ribu mbak. "
"Ini." Aku menyodorkan uang 50ribu.
"ini kembaliannya mbak. " Anak itu menyerahkan uang 5ribuan 3 lembar. 
"eh jangan pergi dulu, kamu kenal bang Rahman gk yang di langgar sana. " aku menunggu jawabannya. 
"Oh bang rahman ya? memangnya lagi gk ada disana mbak? biasanya klo lagi gk ada dia keliling cari uang buat anak2nya. "
"anak-anaknya? "
"eh maksud nya anak asuhnya mbak. "
"dimana saya bisa ketemu? "
"Cari ketempat yatim-piatu mbak. " anak itu berlari menjauh karena lampu sudah berubah jadi hijau. 

"kita cari kemana ya? " tanyaku pada suamiku. 
"coba kau cari di sosmed tempat anak yatim piatu dimana saja. "
aku langsung mencari alamat patu asuhan atau pesantren yang menampung anak yatim piatu, ternyata lumayan banyak. 
"ini Yang ada yg terdekat, depan belok kanan nanti ada pertigaan belok kiri. " perintah ku. 

Ditempat pertama, terdapat plang nama rumah yatim piatu, terlihat beberapa anak bermain diteras rumah. Ketika kami turun dari mobil salah satu dari mereka menghampiri. 
"Assalamu'alaikum bu. " anak itu menyapa. 
"Waalaikumsalam... em maaf dek mau tanya sesuatu, apa ada pengurus nya? "
"Oh ibu Beti, ibu sedang keluar bu. mau tunggu di dalam? "
"Boleh."
Aku dan suamiku masuk kehalaman lalu kami diantar ke sebuah ruangan lebih seperti ruang kantor. Anak itu menyuguhi air digelas sambil berbicara. "Mungkin bu Beti sebentar lagi pulang. Ibu ada perlu apa? "
Aku tersenyum, "Kamu kenal bang Rahman atau Pak Rahman? "
Anak itu mengerenyitkan keningnya. "Pak Rahman? "
"Iya."
"Pak Rahman yang suka bawa hadiah? "
Aku dan suamiku saling tatap. "Mungkin."
"Pak Rahman bulan ini belum datang bu, tidak tentu datangnya. "
Kami terdiam, anak ku pergi meninggalkan kami. Tak lama datang seorang wanita paruh baya. 
"Assalamu'alaikum... "
Kami berdiri dan menjawab salam. 
"Bapak dan Ibu siapa ya? Kenalkan saya bu Beti. "
"Saya Arif, ini istri saya Dona, kami... " Belum selesai kalimat suamiku bu Beti sudah menyela. 
"Oh mbak Dona. ya ya ya. "
"Loh ibu tau saya? "
"Mari duduk. " Bu Beti Duduk dihadapan kami. "Saya kita mbak Dona istri nya Pak Rahman, soalnya Pak Rahman kalau kesini suka bawa barang bilang nya dari dia dan mbak Dona. "
Aku menatap suamiku sebentar, "Oh bukan, saya bukan istri nya bang Rahman, Saya cuma kerabatnya saja. "
" Ya ya ya, saya mengerti... "
"Apa ibu tau dimana Bang Rahman? "
"Rahman belum ada kabar lagi sejak 2 bulan lalu, biasanya dia datang kasih uang dan hadiah buat anak-anak tapi... " Bu Beti menggelengkan kepalanya. 
"Apa ibu tau tempat tinggalnya? "
"Tidak mbak, saya juga sudah beberapa kali bertanya soal alamat dan nomor hp nya tidak dikasih tau juga. "
Aku menghela napas, lalu menatap suamiku. "Baik bu Terima kasih, tapi dimana ya kira-kira kami bisa ketemu dengan dia? "
"Waduh kalau pasti nya saya tidak tau mbak, coba cari ketempat yatim piatu lainnya. "
"baik bu terimakasih, kami permisi dulu. "

"kita pulang saja Yang." Ucapku sambil liat keluar jendela. 
"gak papa kita cari sekali lagi, aku kan udah janji mau nemenin kamu cari dia. "
" makasih ya yang. " dalam hatiku masih ada rasa tidak enak pada suamiku, memintanya mencari lelaki lain yg bukan saudara ku. 

Suamiku menghentikan mobilnya disebuah gank. "Ayo turun. "
Kami menyusuri sebuah gank sempit, diujung gang terdapat sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. 
"Permisi... permisi... " ucap suamiku sambil mengetuk pagar rumah itu. 
Seorang bapak keluar dengan tergesah gesah. "Iya, cari siapa ya? "
"Maaf pak mau tanya, apa bapak kenal bang Rahman? "
"Oh Rahman waduh mbak baru aja Rahman pergi, belum lama baru setengah jam lalu. "
"Bapak tau gk kira-kira pergi kemana? "
"waduh kurang tau mas, Rahman tadi cuma pesan kalau ada yang cari dia cuma disuruh sampaikan kalau nanti dia datang kerumah. "
"oh begitu. "
"kalau boleh tau kalian namanya siapa ya? darimana? "
"Saya Arif dan ini istri saya Dona, kami dari kota A. "
"Oh baik nanti saya kasih tau Rahman kalau datang lagi. "

Kami duduk sebentar di dalam mobil saling tatap. Aku menghela napas. "Kita pulang saja. "
"Sudah disini kita jalan-jalan sekalian, nanti cari hotel yang enak. "
"beneran, gak papa? "
"Gak papa dong. jarang-jarang kita liburan kan. "

Akhirnya kami menikmati sisa hari dengan jalan-jalan, kulineran dan istirahat di hotel yang cukup nyaman. Arif memijat kakiku. Bersyukur aku diberikan suami yang pengertian, tapi masih ada yang janggal dalam hatiku kok dia mau bantu aku cari Rahman. 
"Sayang, kamu kok mau ikut cari Rahman? Kamu gk marah aku cari laki-laki lain. "
"Kamu kan udah jadi milik ku udah hamil anakku apalagi yg harus aku cemburui. "
Tiba-tiba hp arif berdering, "Ayah kok ayah gk ajak aku, kata nenek ayah sm ibu nginep ya. "
"haha,,, maaf ya sayang jarang-jarang kan ayah sama ibu pergi bedua aja, besok ayah beliin oleh-oleh deh buat kamu. "
"ah pokoknya aku sebel sama ayah. "
Aku tertawa mendengar mereka berdua. 

-

Keesokan harinya. 
"Hari ini mau kemana? "
"Gak tau terserah kamu saja. "
"Ketempat wisata ini mau gak? nanti cari tempat anak yatim piatu sekalian. "
"ok."

Sekali lagi kami datang ke tempat yang menampung anak yatim piatu, lebih seperti pesantren, sebelum nya kami beli beberapa cemilan untuk mereka. Ketika disana kami berbicara dengan pengurusnya. 

"Oh bang Rahman, bang rahman gk jelas kesininya kapan bisa 2-3 bulan sekali itu juga belum tentu. ngomong-ngomong kelan bang Rahman dimana? "
Suamiku menatapku, "oh kenalan lama pak, sudah lama gk ketemu, blum lama liat acara di tv soal langgar yang tempat singgah anak-anak jalanan. "
"oh iya saya juga nonton acara itu. "
"cuma pengen sambung tali silaturahmi lagi pak sudah lama tidak ketemu. " jawabku
Tiba-tiba seorang anak mengintip dari pintu. 
"Ada apa Dan? "
"Pak, bang Rahman udah transfer uang jajan. " ucap anak itu sumringah. 
" ya sudah nanti kita bareng-bareng belanja. "
Aku bertanya lagi, "maksudnya pak? itu Rahman yang kasih uang ke anak-anak? "
"iya Mbak, bang Rahman rutin kasih uang jajan. Katanya karena mereka seumuran dengan anaknya. "
"oh, selain itu Rahman pernah cerita apalagi pak? " tanya suami ku
"ya paling cerita aja dia lagi sibuk apa, tapi dia lebih banyak main sama anak-anak. "

Setelah dari tempat itu kami kembali ke hotel. 

"ternyata temen kamu baik juga ya. " ucap suamiku sambil makan 
"aku aja baru tau kalo dia punya anak asuh banyak. "
"kita udah keberapa tempat loh pada kenal semua sama dia. emang dia kerja apa duitnya banyak ya? "
"aku aja gak tau dia kerja apa, dulu cuma serabutan, lebih sering gk punya duit. "
"wah jangan-jangan dia punya warisan kali. "
"haha... mungkin. tapi setauku ortunya juga orang biasa gitu bukan yang kaya. "

Sore itu kami pulang, singgah sebentar untuk makan di tempat peristirahatan. 
"Eh itukan anak-anak yang kemarin? "
"anak-anak apa? "
"itu anak-anak yang aku ketemu pas kondangan bu Irma. "
"? " suamiku menunjukkan wajah bingung. 
"dek dek. " aku melambaikan tangan pada mereka. 
"eh mbak Dona, mbak kok disini? "
"Iya lagi jalan-jalan, kenalin ini suami saya. "
suamiku mengulurkan tangan "Arif."
"Kalian kok disini? "
"kami dapet tugas dari bang Rahman, nganter barang ke kota C, tapi ambil barangnya di kota A. "
"hush kok lo bilang-bilang sih, ntar dimarahin sama bang Rahman kan gak boleh bilang-bilang. " ucap salah satu diantara mereka. 
"gak papa ini mah kenalan bang Rahman. " ucap anak yang memberikan surat waktu itu. 
"Kalian tau gak bang Rahman dimana? "
"Gak tau mbak. kita biasanya kalo disuruh cuma dikasih surat, uang trus dia pergi lagi. "
"Kok kalian mau aja disuruh dia? "
"Hehehe... lumayan mbak uangnya buat hidup hari-hari. "
"Oh, kalian sudah makan? "
"Alhamdulillah sudah mbak. eh mbak bis kami sudah mau jalan kami pamit dulu. "
"oh ya hati-hati ya. "

suamiku tiba-tiba ketawa-ketawa. 
"kenapa sih ketawa-ketawa? "
"gak. temen kamu jangan-jangan kurir narkoba, hati-hati loh. " ucap suamiku sambil becanda. 
"dih masa iya? tapi emang agak aneh juga ya kayanya banyak duit dia bisa nyuruh anak-anak anter barang gt. ntar kalo ketemu kita introgasi aja dia. "

-

"Dona. ayo gw anter pulang. "
"lah blum balik lo bang? "
"dih kan nungguin lo, lo kan gk bawa motor. "
"oke, tapi mau ngurus berkas dulu. "
"oke gw tunggu ditempat biasa ya. "
Rahman berjalan menjauh dariku. 

Sejam kemudian aku segera membereskan barang-barangku. Sebelum bertemu Rahman aku beli beberapa cemilan. Ketika aku liat Rahman sedang ngobrol dengan seorang perempuan, lebih muda, lebih cantik dan suaranya lembut. Aku menghentikan langkahku, terdiam hingga Rahman sadar dengan keberadaan ku. 
"hei... " Rahman melambaikan tangan. "duluan ya. "
Aku lihat perempuan itu manyun sambil kesal melihat Rahman meninggalkan nya. 
"Siapa? "
"fans... hehe"
"dih ketawa lu. " aku menggigit cemilanku. Rahman merebut satu gigitan. "suka? "
"hem." dia mengunyah sambil tersenyum. "maksudnya? "
"dia? " aku menegaskan. 
"bukan, rotimu. "
aku menunjukkan wajah bingung. 
"bagi lagi. "

Aku dan Rahman berbeda lumayan jauh dari segi umur. Kami bertemu dikampus yang sama tapi berbeda jurusan. Dia sudah mendekati akhir semester aku malah baru mulai. Entah bagaimana awalnya dia yang mendekati aku duluan ketika aku menunggu angkutan umum. 

"kamu dikampus Z juga kan? mau kesana? bareng yuk? " Dia menyodorkan helm. 
aku menolaknya tapi dia memaksa. Dia turun dari motor nya memakaikanku helm dan menarikku naik ke motor nya. 
"Nama kamu siapa? "
"Rahman, teknik mesin semester akhir. Kamu? "
"Dona, jurusan bahasa, semester 3."
"Rumah mu sekitar tadi? "
"Oh gak lebih jauh lagi, tadi juga dianterin sampai sana. "
"Diantar pacar? minta sampai kampus dong. "
"Bukan, sepupu. "
"Oh."
Dih orang sksd banget, tapi gak papa deh lumayan ngirit ongkos kan. Ucap ku dalam batin. 
Kami menikmati perjalanan dalam diam sesekali dia melirik ke belakang sedangkan aku pura-puraa tidak lihat. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan pertama itu. 

Beberapa waktu setelah pertemuan pertama aku bertemu lagi dengannya. Dia sedang ditarik-tarik oleh seorang perempuan. Dia melihat ku dan langsung melepaskan tarikan perempuan itu. 
"Hai... tunggu. "
Aku menghentikan langkah ku. 
"Ya... hei. Kok ditinggalin? "
"Nyusahin minta anter mulu, emang nya gw ojek. "
"Pacar? "
"bukan."
"Lah gimana ceritanya sampai minta anterin gitu? "
"Waktu itu searah aja gw mau main, malah keterusan. Lo mau pulang? "
"Gak, ngukur jalan. "
"gw anterin yak. "
"lah katanya bukan ojek. "
"hehe... gak papa. sekalian balik. "
"ok."

-

"Paket." seseorang mengetuk pagar rumah kami. 
"mah paket. " teriak anakku. 
Aku keluar dan mengambilnya, paket aneh tidak ada alamat pengirim aku juga tidak pesan barang. aku langsung buka dengan hati2. isinya sebuah selendang dengan gambar pemandangan gunung dan sebuah surat. 

Untuk yang tersayang
Dona, semoga kau suka. 

Aku membalik-balikkan kertas mencari alamat dan nama pengirimannya, tapi aku sudah bisa menebak pasti dari Rahman. Suamiku mana pernah misterius gini. 

Sepulang kerja, anakku langsung mengadu ke ayahnya. 
"ayah, ibu tadi dapat hadiah, bagus loh. "
"hadiah? dari siapa? " Arif langsung bertanya kepadaku. 
"Seperti nya Rahman. " aku membuka hadiahnya dan menunjukkan pada Arif. 
"bagus." ucapnya sambil menyentuh selendang itu. 
Aku menyimpan nya kembali ke kotak dan menaruhnya di lemari. 
"Ayah gak marah, ibu dapat hadiah?"
"Kenapa harus marah, rejeki itu gak boleh ditolak. "
Aku merasa bersalah pada suamiku. tapi aku iuga gk mau membuang hadiah darinya. Aku bahkan menyembunyikan surat-surat dari Rahman. 

"Emang dia kesini tadi? " 
"gak."
"Kok tau dari dia? "
"Lah kan dulu juga pernah, dia kalo ngasih gk ada alamat pengiriman nya kan. "
"oh iya.  kabari aku kalau dia kesini. "
"iya... terimakasih ya. kamu gak marah kan? "
"gak kok. Kamu udah siapin untuk lahiran? "
"sudah. mau liat gk tadi aku beli baju bayi lagi lucu banget. "

(note : ketika menulis ini penulis mendengar kan lagu Hamari Adhuri Kahani) 

Hidupku sangat bahagia bersama keluarga kecilku. Awalnya suamiku tidak senang dengan hubunganku dengan Rahman, tapi rahman berkali-kali meyakinkan bahwa aku tidak berselingkuh dengannya. 


Saturday, June 20, 2026

20juni

9 maret-16 april
mama masih nangisin km nak. mama kangen. main-main disana ya nak, senang-senang, kan dzein sudah tidak sakit lagi. nanti panggil mama ayah dan kk nia ya, makasih ya nak tetap mau hadir dihidup mama 

Wednesday, June 17, 2026

18 juni

aku ingin pergi tapi aku tak bisa kehilangan anak ku lagi

Thursday, April 30, 2026

ku harap kau pulang

masih jelas rasanya kau menempel di dadaku
masih ingat aku beratmu ditanganku
masih juga tercium wangi tubuhmu
masih ingin aku merasakan lembut kulitmu

aku masih berharap
kau cuma pergi sebentar
kau cuma main diluar sebentar
kau cuma sedang menikmati hari

aku masih berharap
kau sebentar lagi pulang
kau sebentar lagi memanggilku
kau sebentar lagi menangia dalam pelukkanku

aku masih berharap kau pulang

Laki laki surgaku

Awalnya aku tak yakin
kau telah ada dalam pelukanku
tapi ini membuatku yakin
kau menutup mata sambari tersenyum

kau nyata
kau hadir
tapi 

tak lama
tak banyak 
tak kuat bertahan

entah mengapa engkau begitu rapuh
mengapa engkau jarang sekali membuka mata
walau begitu suka tersenyum
engkau pula sulit mengatur napas

kau terbaring

anakku
anak laki lakiku
anak yang tak kuduga

sebentar apapun kau hadir
sedikit momen yg terjadi
sedikit pelukan dan kecupan
sedikit harapan dan firasat

Terima kasih allah
kau menghadirkannya
anakku
laki laki surgaku

A. Dzein
9maret-16april