Wednesday, July 25, 2018

My Wedding Story 2

Selama pembicaraan aku dan ibumu. Cuma satu yg aku pikirkan. Apa ibumu ayahmu dan keluargamu menerimaku. Alhamdulillah pertanyaan selanjutnya justru sebaliknya. Ibumu malah bertanya apa siap menerima kamu apa adanya, dengan sikap seperti itu, suka berantakan, semaunya dan suka pergi2 ziarah. Saya jawab, masalah pekerjaan justru saya pernah menyarankan untuk berdagang jauh sebelum dia lakukan, mengajar silat juga saya tau sejak awal. Saya kenal bukan sehari dua hari tapi tahunan. Insyaallah saya menerima dia kalau dia benar mau menerima saya.

Setelah hari itu rasanya kita seperti memulai hubungan baru. Ya hubungan baru tak selalu senang, dengan sikap kamu yg kadang gak mau ngalah atau suka menggoda akhirnya aku nangis. Ada rasa syok ketika aku tolak keinginan mu, kamu menarik tanganmu dr rangkulanku dan menarik tanganmu ketika bersentuhan denganku, hal itu benar2 membuat aku down, bingung harus bagaimana akhirnya aku nangis ketika kau memelukku.

21 juli. Seminggu ini mama udah sibuk, nanya berkali2 mau masak apa, mau kasih buah tangan apa, harus ngatur tempat duduk seperti apa. Pusinglah pokoknya. Aku berharap pertemuan biasa aja gak formal. Tau-taunya jadi sangat formal. Dari awal ya pembicaraan hanya sekedar tukar cerita pengalaman, latar belakang. Ditengah acara malah bibi kamu yg langsung ngomong mau datang lamaran tgl 12 agustus. Semua tertawa, tapi akhirnya semua berjalan lancar, aman, nyaman dan kekeluargaan. Tapi sebel sih kamu malah ngobrol sama sepupu2 aku. Bukannya sama aku.

Insyaallah tgl 12 agustus kau akan datang melamar ku. Rasanya gak sabar menunggu hari itu.

No comments:

Post a Comment