Wednesday, July 25, 2018

My Wedding Story 2

Selama pembicaraan aku dan ibumu. Cuma satu yg aku pikirkan. Apa ibumu ayahmu dan keluargamu menerimaku. Alhamdulillah pertanyaan selanjutnya justru sebaliknya. Ibumu malah bertanya apa siap menerima kamu apa adanya, dengan sikap seperti itu, suka berantakan, semaunya dan suka pergi2 ziarah. Saya jawab, masalah pekerjaan justru saya pernah menyarankan untuk berdagang jauh sebelum dia lakukan, mengajar silat juga saya tau sejak awal. Saya kenal bukan sehari dua hari tapi tahunan. Insyaallah saya menerima dia kalau dia benar mau menerima saya.

Setelah hari itu rasanya kita seperti memulai hubungan baru. Ya hubungan baru tak selalu senang, dengan sikap kamu yg kadang gak mau ngalah atau suka menggoda akhirnya aku nangis. Ada rasa syok ketika aku tolak keinginan mu, kamu menarik tanganmu dr rangkulanku dan menarik tanganmu ketika bersentuhan denganku, hal itu benar2 membuat aku down, bingung harus bagaimana akhirnya aku nangis ketika kau memelukku.

21 juli. Seminggu ini mama udah sibuk, nanya berkali2 mau masak apa, mau kasih buah tangan apa, harus ngatur tempat duduk seperti apa. Pusinglah pokoknya. Aku berharap pertemuan biasa aja gak formal. Tau-taunya jadi sangat formal. Dari awal ya pembicaraan hanya sekedar tukar cerita pengalaman, latar belakang. Ditengah acara malah bibi kamu yg langsung ngomong mau datang lamaran tgl 12 agustus. Semua tertawa, tapi akhirnya semua berjalan lancar, aman, nyaman dan kekeluargaan. Tapi sebel sih kamu malah ngobrol sama sepupu2 aku. Bukannya sama aku.

Insyaallah tgl 12 agustus kau akan datang melamar ku. Rasanya gak sabar menunggu hari itu.

Love story

Dania hanya memandang layar komputer didepannya, perlahan matanya memerah dan berair. Raj tak sengaja memperhatikannya dari dalam ruangan. Segera Raj berdiri dan mengetuk jendela, memberi tanda kepada Dania untuk ke ruangannya. Dania masih terpaku di tempatnya. Raj akhirnya mengahampiri Dania.
"Keruangan saya sekarang."
Dania kaget dan hanya bisa menatap Raj bingung.
Raj kembali keruangannya dan Dania mengikutinya.

"Ada apa?"
"Aku bertemu dia."
"Siapa?"
"A...A..."
"Ali?"
"Ya."
"Dimana?"
"Dia menunggu didepan kantor." Dania menatap Raj.
"Dia mengganggumu?"
"Tidak, tapi..." Seketika itu juga pecahlah tangis Dania.
Raj hanya memegang tangan Dania, menghapus airmatanya dan mengusap lengannya.

Dania bangkit dan keluar ruangan, Raj hanya menghela napas dan memandang Dania.

Sisa hari kerja Dania hanya diam dan mengerjakan beberapa pekerjaan, tak menyapa Raj.

"Saya tunggu di tempat Ramen ya." Ucap Dania sambil melongok di ruangan Raj.
"Ya setengah jam lagi saya kesana."

Part 3

"Kamu baik-baik saja?"
"Maaf Raj."
"Maaf? Untuk apa?"
"Raj, aku mencintai dia, tapi sikapnya terlalu kasar, aku hanya tak bisa terima itu dan sulit memaafkannya." Dania menatap Raj dan mencoba mencari suatu tanggapan. "Pantas kah aku marah?kesal?sedih?atau apapun perasaan itu?"
Raj tersenyum, "Tidak apa, aku mengerti."
Dania memalingkan wajahnya dari Raj dan tetap menangis.
"Dania, malu dong sama mereka, masa menangis ditempat umum. Nanti aku dikira yang nyakitin kamu."
Dania menghela napas dan menghapus air matanya. "Raj, maafkan aku."
"Tidak apa, traktir aku ya?"
Dania memanyunkan bibirnya, "Kok malah minta traktir?"
"Lebih nikmat jika kau yang belikan." Raj tertawa dan bangkit dari tempatnya. "Jangan biarkan mata cantikmu menangis lagi ya."
Dania tersenyum sedikit dan tersipu malu.
Mereka menikmati makanan pada sore itu. Melupakan sejak tentang kegelisahan dan kesedihan Dania.

Part 4
"Mbak Dania, ada yang mencarimu."
"Siapa Pak?"
"Ali."
Dania terpaku sebentar dan segera sadar, "Bilang saja saya tidak ada."
"Waduh mbak gak enak toh, dia tetangga saya." Jawab Pak Badar security kantor.
Dania memasang tampang manyun ke Pak Badar.
"Ya deh mbak, saya bilang mbak lagi sibuk."Pak Badar tertawa kecil lalu pergi ke lobi.
"Ali maaf ya mbak Dania sibuk. Gak mau diganggu."
"Yah..." Terlihat sekali kekecewaan diwajah Ali, "Saya titip pesan saja deh pak, bilang saja saya hanya mau minta maaf. Terima kasih." Ali segera keluar gedung sebelum Pak Badar menanggapi ucapannya.
"Ada apa antara mbak Dania dan Ali?" Pak Badar menelepon Dania.
"Halo mbak Dania, ada pesan dari Ali, katanya dia minta maaf."
Dania hanya mendengarkan ucapan Pak Badar. "Terima kasih Pak." Lalu menutup obrolannya.

Part 5
"Ali minta maaf ke kamu?"
"Iya."
"Terus?"
"Gak ada terusannya, emangnya baju. Kalau memang dia tau Allah itu pemaaf harusnya dia minta maaf sama Allah, bukan sama aku."
"Hahaha..."
"Loh kok malah ketawa?"
"Ikhlaskan sayang, biar kamu juga enjoy hubungan sama aku."
"Apa hubungannya?"
"Ya ada dong, secara gak langsung, bisa jadi kamu bakal ungkit-ungkit masalah itu."
"Kamu marah ya aku bicara soal itu?"
"Tidak, tapi bisa jadinanti suasananya berbeda kan?"
"Iya, aku coba maafin dia."
"Dan, kita ganti tema pelaminannya ya."
"Mau ganti apalagi? Nanti malah lebih mahal biayanya."
"Kita ganti tempat berfoto, kita bisa berbaur sama tamu."
"Yakin kamu?"
"Ya aku yakin."
"Ya bilang orang tua kita dulu."

Dilain tempat.
"Pak Badar, pesan saya sudah disampaikan belum?"
"Sudah toh Li, langsung saya sampaikan."
"Dijawab apa?"
"Ndak dijawab apa-apa. Cuma bilang terima kasih ke saya. Sebenarnya ada apa toh?"
"Gak ada apa-apa, hanya saja hampir saya tabrak dia minggu lalu."
"Wah kok iso?
"Saya kenal sudah lama, kaget aja liat dia kemarin, gak sadar malah motor jalan ke arah dia. Hahaha..."
"Oh mbak Dania memang cantik, baik lagi, apalagi pacarnya baiknya banget toh."
"Bapak kenal sama pacarnya juga?"
"Lah iya, wong mbak Dania tunangannya si Pak Bos."
"Wah keduluan saya."
"Wah naksir sama mbak Dania toh?"
"Gak juga. Hehehe..."
"Wah kamu bohong li, lah wong muka merah gitu, bilang ndak suka, hayo ngaku saja kalau kamu naksir mbak Dania."
"Lah saya ini beneran gak naksir pak, tapi cinta, hahaha... Saya pernah punya hubungan sama mbak Dania, cuma sayanya aja yang bodoh sampe bikin Dania marah."
"Owalah jadi itu toh yang bikin kamu marah minta maaf kemarin? Kok mbak Dania bisa marah? Padahal dikantor bdak pernah marah loh."
"Ya mungkin sayanya buat kesalahan yang terlalu besar."
"Oh..."

Part 6
"Dania, coba telepon Raj suruh kesini gitu."
"Ada apa ma? Tumben?"
"Udah telepon aja buruan."
Dania melirik bingung ke mama nya.
"Assalammualaikum Pak Bos, sudah bangun belum?"
"Waalaikum salam Bu Bos, ada apa pagi-pagi sudah telepon? Kangen? Mentang-mentang kantor lagi libur pakai kangen segala."
"Ih... Mama yang kangen tuh, kamu disuruh kesini."
"Sip Bu Bos. Kamu dandan yang cantik ya kalau sempat kita liat-liat kebun."
"Alah liat kebun kok pakai dandan. Gak mau ah, nanti kumbang pada nemplok."
Dania mematikan teleponnya.

Beberapa jam kemudian.
"Jadi gini Raj, mama mau mudik, kamu mau ikut gak? Kenalan sama keluarga yang disana."
"Mama apaan sih, nikah aja belum."
"Gak papa toh sebentar lagi juga nikah. Pas kalian tunangan kan mereka gak bisa datang."
"Ah terserah mama sajalah."
"Ya kalau mama, papa, Dania tidak keberatan saya sih mau saja ikut."
"Oke kalau gitu siap-siap, eh tapi kamu bawa mobil sendiri bisa gak?"
"Bisa ma."
"Besok habis sahur kita jalan, kamu nanti malam nginep disini saja."
"Iya ma."

Part 7

Tuesday, July 24, 2018

Buronan

1. Buronan

Wanita itu berjalan sendirian menelusuri pinggir kali, entah apa yang ia pikirkan, air matanya tak berhenti menangis, suaranya parau menggumamkan nama Pasha.

"Sebuah kasus mengejutkan, seorang ibu telah tega membunuh anaknya sendiri dan pelaku kini sedang dalam pencarian polisi, berikut kami tampilkan foto pelaku." Sebuah berita di tv menayangkan foto seorang foto perempuan bersama anak kecil yang menjadi korban.
"Shasa?"
"Kamu kenal dengan wanita pembunuh itu?" Suara wanita mengejutkan Jul.
"Ya."
"Dia memang jahat atau gimana?"
"Dia sangat baik."Jul segera pergi dan mematikan tv. "John siapkan mobil."
"Pulang jam berapa Mas?"
"Bukan urusanmu."

Dalam perjalanan.
"John siapkan orang, cari wanita yg dituduh membunuh seorang anak, yang diberitakan hari ini." Jul berbicara sambil mencatat sesuaty dalam bukunya.
"Baik bang, hidup atau mati?"
Jul kaget mendengar ucapan John.
"Tanpa lecet sekalipun. Bawa dia ke kantor segera."
"Baik bang."

Jantung Shasa berdegup kencang, ia juga tak sanggup lagi mengatur nafasnya, rasanya dada dan seluruh tubuhnya terbakar, ia tak tahu harus lari kemana lagi.
"Siapa mereka? Polisi?"
Samar-samar terdengar langkah kaki mendekat ke arah Shasa bersembunyi. Ia hanya bisa pasrah, matipun mungkin lebih baik baginya.
"Mbak Shasa ikut saya, saya tak akan menyakiti mbak, saya diminta abang saya membawa mbak ke tempat aman."
Tempat aman? Apa maksudnya? Siapa mereka?
"Mbak Shasa, tolonglah keluar saya tidak akan menyakiti mbak."
Shasa yang tak sanggup lagi berlari, menyerah dan keluar dari persembunyiannya.
"Siapa kamu? Polisi?"
"Bukan Mbak, saya bukan polisi. Saya hanya orang suruhan, saya diminta abang saya membawa mbak ke dia."
"Siapa abang yg kamu maksud?"
"Jul."
Shasa seketika itu juga roboh, sedikit lega hati dan tubuhnya mendengar nama itu, nama yang sudah lama hilang dalan hidupnya.
"Jul?"
"Mari mbak ikut saya, saya tak akan menyakiti mbak." Laki-laki besar itu menghampiri Shasa dan memvantunya berdiri kembali. "Jangan lari lagi ya mbak, saya capek."
Shasa hanya terdiam ketika dibawa masuk ke dalam sebuah mobil.
"Kembali semua." Perintah John kepada beberapa laki-laki.

Ketika sampai disebuah gedung drngan halaman yang sangat luas, Shasa hanya memandang keluar jendela tanpa memikirkan apa yang dilihatnya.
"Shasa." Jul sendiri yang mengahampiri Shasa masuk ke dalam mobil.
Seketika itu juga tangis Shasa pecah, "Aku tak membunuh anakku. Aku bukan pembunuh, aku tak membunuh anakku."
"Ya sayang, aku tau kau tak akan sanggup melakukan kejahatan seperti itu." Jul langsung memeluk Shasa dan mencium keningnya.

Diluar mobil para laki-laki yang berjaga mencuri-curi kesempatan melihat ke dalam mobil, melihat kejadian apa dan mencoba memahaminya.
"John, bang Jul punya hubungan dengan wanita itu?"
"Entahlah, bang Jul tidak berkata apa-apa soal itu. Sudah diam dan jangan melihat ke arah mereka lagi."

Shasa turun dari mobil digandeng Jul, erat genggaman tangan Jul, pasti tapi tidak mengakitkan Shasa.
"Kau tinggal disini, kau akan aman, jangan takut, aku akan menjagamu." Jul merangkul Shasa memasuki sebuah ruangan, "Ini ruanganku, disana kamar, kau bisa tinggal dan istirahat disini, kau bisa melihat keluar tapi mereka tak akan melihatmu, jadi jangan khawatir, kau aman disini."
"Jul sumpah aku tak membunuh Pasha."
"Iya aku tahu kau tak mungkin melakukan itu, sekarang kau harus tenang dan beristirahat, bisa kamu bersihkan diri dan segera aku siapkan pakaian bersih untukmu."
"Jul aku tak membunuh anak kita."
Perkataan Shasa itu seperti sambaran petir disiang bolong, mengejutkan dan terasa menyetrum seluruh badan Jul.
"Apa yang kamu katakan tadi?"
"Pasha anak kita, aku tidak membunuhnya."
"Pasha anak kita? Bagaimana mungkin?"
"Sebelum aku menikah, nyatanya aku tengah mengandung anak kamu, orang tuaku membawaku keluar kita sampai aku melahirkan setelah itu Gilang baru menikahi aku."
Jul jatuh terduduk di karpet, benar-benar seperti disambar petir tubuhnya.
"Gilang marah besar mengetahui hal itu, ia merasa dibohongi, tapi sampai saat sebelum kematian Pasha, ia tak mau menceraikanku."
"Kenapa kau tak memberitahuku?"
"Aku tak tahu harus mencari kau kemana, akun sosmed semuanya kamu hapus, aku pun tak bisa menghubungi kamu."
"Maafkan aku Shasa."
"Tapi sumpah Jul, aku tak pernah menyakiti Pasha. Aku sampai saat ini juga tak mengerti apa yang terjadi, siang itu aku hendak makan siang bersama Jul, hanya dengan sisa uang kami hanya bisa membeli seporsi bakso, sebentar saja Pasha aku tinggal mengobrol dengan tetangga aku menemukan ia sudah tergeletak kejang dan berbusa mulutya, aku tak tahu apa yang terjadi saat itu, aku segera minta bantuan tetanggaku untuk mengantarnya ke rumah sakit, dokter bilang Pasha keracunan racun tikus, padahal tak ada sama sekali racun tikus ditempat tinggal kamu, Pasha tak bisa diselamatkan, pihak rumah sakit memanggil polisi, dan entah bagaimana aku langsung ditetapkab sebagai pelakunya."
"Sudah Shasa ini bukan salahmu, ini salahku yang tak mencoba melindungi kalian, aku yang salah." Jul menangis sambil memeluk Shasa.

Berkali-kali telepon berdering tak sekalipun Jul angkat atau hiraukan, sepanjang malam ia hanya memeluk Shasa yang tertidur, betapa perih hatu Jul melihat Shasa seperti ini, dalam tidurpun terasa perasaan takut dari diri Shasa, gumaman nama Pasha terus terdengar lirih hingga Jul yg mendengarnya menangis.

Pagi itu Jul dikagetkan oleh bel dikantornya. Ia langsung bangun dan keluar ruang tidurnya. Melihat seorang wanita masuk sambil marah-marah Jul hanya menatap sinis.

"Oh begini ya kelakuan kamu kalau dikantor, bukan kerja tapi ngelonin perek."
"Masih pagi. Jangan buat keributan, pulang sana, saya banyak kerjaan." Jul mengambil segelas susu dari kulkas dan meminumbya beberapa teguk.
"Heh wanita mana yang gak sakit hati kelakuan suaminya kaya hidung belang, bajingan." Wanita itu terus saja berbicara keras dan menunjuk-nunjuk muka Jul.
Jul menepis tangan wanita itu dan langsung mengambil telepon. "John bawa dia pulang."
Seketika itu juga John dan beberapa orang masuk ke ruangan dan menghampiri wanita itu.
"Mari bu saya antar pulang."
"Heh gak usah ikut campur, ini urusan saya dan suami saya."
"John, mulai hari ini dia tidak saya perkenankan masuk ke ruangan ini, bukan, jangan sampai dia masuk ke gedung ini."
"Baik Bang." John memaksa wanita itu keluar ruangan.
Jul menuang kembali susu digelasnya dan membawanya ke ruangan dimana Shasa berada. Ia mendapati Shasa berdiri menghadap jendela, melihat keluar wajahnya tapi tatapannya kosong.
"Shasa," panggil Jul lembut, "Lupakan kejadian buruk, aku sudah disini."
Shasa kaget ketika Jul memeluknya.
"Kenapa?" Jul meletakkan gelas susu yg tinggal setengah isinya karena tumpah.
"Maaf aku kaget tiba-tiba."
Jul tersenyum lalu menarik tangan Shasa. Menariknya duduk dipangkuannya.
"Ingat dulu aku sering memangkumu seperti ini?"
Shasa mengangguk pelan.
"Tenangnya hatiku ketika kau berada di pangkuanku, semua penyesalan dan kekecewaanku hilang."
Shasa menarik napas panjang dan memeluk Juk. "Aku dengar sekilas perkataan istrimu."
"Dia tidak akan membahayakanmu, dia cuma pendamping pengganti, tidak bisa mengambil tempatmu disisiku."
Jul merebahkan dirinya dan menarik Shasa tertidur didadanya.
"Andai kita bisa terus bersama saat itu."

2. Jul dan pembunuh bayaran
Pagi itu Jul sudah berpajaian rapih, duduk sambil minum kopi mebyaksikan berita pagi.
"Kasus pembunuhan anak di kota A berlanjut, sang ayah menuntut pelaku yang merupakan istrinya, suami pelaku telah memasukkan laporan ke polres kota A."

Tampak di layar seorang laki-laki marah dan menangis bergantian.
"Dasar wanita biadab, teganya dia membunuh anaknya sendiri, padahal kurang apa anaknya, anaknya pintar, ceria, tidak pernah badung, saya sangat menyesal hal ini sampai terjadi tapi saya tidak akan membiarkan arwah anak saya tidak tenang, saya akan memberi pelajaran kepada wanita itu."

Klik, Juk mematikan televisi dan meminum kopinya.

"Mau kemana kau sudah rapi jam segini."
"Aku ada urusan."
"Alah paling soal cewe itu."
"Sudah diam kamu, atau balik sana ke kotamu."
"Kau mengusirku?"
Jul pergi meninggalkan wanita itu.

"John, si abang berantem lagi sama bininya, kapan sih mereka akurnya? Padahal kalau sama yg itu tuh mesra banget, digandeng, dirangkul, bicaranya pelan, halus gak kaya sama bininya."
"Hus masa bos sendiri lo gosipin, itu urusan mereka, lo jaga tuh mulut, kalo abang tau lo bakal tinggal nama."
"Yah lo mah nakutin aja, jangan kasih tau abang ya, plis, gw tutup mulut deh."

Jul datang membawa sebuah tas menghampiri John.
"Bagus pergi aja sama wanita pelacur itu, gak usah balik lagi kesini, gak usah kamu ketemu Riza."
Jul menatap Lina tajam, "Jaga mulutmu, kalau harusnya diam, kalau tidak mau hidup menderita."
"Apa kamu ngancam aku?"
"Kenyataannya kamu tidak bisa hidup mandiri."
"Baik akan aku buktikan, aku gak bakal minta uang kamu, aku akan pergi dari sini, kamu mau cerai silahkan, kita ketemu dipengadilan."
"Silahkan pergi tapi Riza tetap bersama saya." Jul langsung memberi kode ke John untuk membawakan tasnya. "John suruh yang lain mengamankan Riza, jangan sampai dibawa Lina.
"Baik."

Lina yang melihat sikap cuek Jul langsung mengamuk, Vas dilempari kearah pintu, semua yg didekatnya dibanting, tak ada yang menghentikannya. Tapi sayang Lina tidak sadar bahwa Riza telah dibawa pergi tak lama setelah Jul pergi.

"Sha, kita cari rumah, kamu mau?"
"Aku tak beranu keluar, aku gak mau masuk penjara, aku tidak membunuh Pasha."
"Kita butuh tempat tinggal yang lebih besar, anakku akan tinggal bersama kita."
Shasa melihat Jul dengan bingung, "Istrimu?"
"Aku akan menceraikan dia."
"Gara-gara aku?"
"Bukan, hubungan kami memang dipaksakan. Sudahlah kau tak usah memikirkan itu, pikirkan saja kau ingin rumah seperti apa. Ini hakmu sebagai wanita yang dulu aku sia-siakan."
Shasa menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya.

"Halo Pak Kif, saya butuh bantuan anda, segera datang ke kantor saya."

Jul kembali ke kantornya, mengerjakan sesuatu.
"John."
John segera muncul dari balik pintu.
"Kumpulkan beberapa orang, cari tau soal laki-laki yang menuntut dia, cari semua keterangan soal kasusnya dan kejadian sebenarnya."
"Apapun caranya?"
"Ya, lakukan sebisamu."

"Pak Kif, lama tidak bertemu ya, bagaimana kabar anda?"
"Baik Pak Jul, ada apa nih mendadak sekali ingin bertemu saya?"
"Mari duduk dulu, sebentar saya buatkan kopi untuk anda."
"Ah tak usah repot-repot Pak Jul."
"Silahkan duduk Pak." Jul mengambil cangkir didekat mejanya, "Pahit?Manis?"
"Manis saja pak."
"Jadi begini Pak Kif, saya ingin mengajukan perceraian, bisa bantu saya?" Jul menuangkan air panas diserbuk kopi dan gula didalam cangkir.
"Bapak mau bercerai? Kalau boleh tau apa alasannya?"
Jul menaruh cangkir kopi di meja depan Pak Kif. "Saya mau bercerai, tak ada alasan khusus hanya saja saya tak punya waktu untuknya, tapi saya mau hak asuk Riza ditangan saya, bagaimana pun caranya, harta berikan saja 1/3 untuk nya dan 1/3 untuk Riza, tapi ingat banyak aset milik saya jauh sebelum menikah dengannya. Bapak bisa bantu?"
Pak Kif menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Saya bantu tapi saya tak janji cepat."
"Sebulan cukup? Saya mau bulan depan sudah cerai. Setelah itu masih ada lagi yang harus dikerjakan."
"Bapak mau secepat itu?"
"Ya, bapak bisa aturkan?"
"Saya usahakan."
"Oh iya minta tolong kenalan bapak yang punya rumah mewah, yang mau jual, datang ke saya, saya sedang cari rumah baru."

3.Jul dan shasa cinta lama terkuak
"Jadi benarkan kamu selingkuh dengan wanita pelacur itu?"
"Dia wanita baik-baik, saya yang membuatnya sengsara, dia ibu dari anak saya."
"Kamu gak inget Riza anak siapa? Aku ibunya, aku ibunya, aku istri kamu."
"Saya tak cinta dengan kamu, terima saja perceraiannya, bisa hidup kamu terjamin, gak usah takut miskin. Riza biar saya yang rawat."
"Tidak bisa."
"Sudah kau tunggu saja, tanda tangani berkasnya, pindahkan barang2 mu, nanti uang hak mu saya transfer."
Jul meninggalkan Lina yang menangis meraung-raung.

Shasa terbaring diranjang, badannya begitu dingin. Ia sakit sudah hampir satu minggu tapi panasnya tak kunjung reda. Jul duduk disampingnya sambil membaca buku dan sesekali mengecek handphonenya.
"Pak Jul, sidang selasa tanggal 26, saya sudah menyiapkan semuanya, bapak tinggal bawa mbak Shas."
"Ya Pak Kif, saya pasti datang, bapak pastikan saja semua berjalan dengan benar." Ucap Jul di handphone.
"Gimana keadaan mbak Shas, apa sudah baik?"
"Belum pak, masih demam, semoga secepatnya sembuh."
"Aamiin."
"Terima kasih pak, nanti saya hubungi kembali." Jul terlihat sangat senang, sebentar lagi dia dan Shasa tak perlu bersembunyi, Jul berharap mereka bisa membangun keluarga lagi.

Hp Jul berdering lagi.
"Ya John."
"Bang ini dibawah banyak wartawan."
"Usir saja mereka. Carikan juga villa di  anyer."
"Baik bang."

"Sana kalian pergi."
"Bagaimana keadaan mbak Shasa, kenapa blum muncul sampai saai ini?"
"Siapa sebenarnya pemilik tempat ini?"
"Apa hubungannya Pak Jul dengan mbak Shasa sampai mau membela mbak Shasa?
"Hai hai hai!!! Dengarkan saya, kalian tidak diperkenankan mengganggu disini, silahkan kalau mau tau sendiri soal itu tanya sana sama polisi, jaksa atau orang lain, sekarang pergi kalian." John meneriaki para wartawan itu sambil bertolak pinggang.

Jul memeluk Shasa, membelai rambutnya sambil memandang ke langit-langit. Pikirannya terbuai angannya sendiri. Buaian mengenai cerita-cerita lama dan cita-citanya yang lama terpendam.
"Jul."
Ucapan Shasa menyadalkan lamunan Jul.
"Ya, sayang ada apa?"
Shasa menutup matanya lagi dan lebih mendekatkan diri pada Jul.
Jul mencium kening Shasa, menyisir rambutnya yang menutupi keningnya, sekali lagi Jul memberi kecupan, dikeningnya, lama, mendalam dan membuai. Pipi, hidung, bibir Shasa tak lepas dari buaian Jul. Mereka terbuai dalam cinta lama.

Shasa membuka matanya, didapati Jul disisinya, samar-samar ia ingat buaian Jul padanya, membuat bulu romannya bangkit dan memberinya sedikit senyuman, kecupan ringan di dagu Jul dari Shasa dan mereka kembali terlelap.

Kembali ke asal

Setelah bertahun tahun aku pergi, akhirnya aku kembali ke kota ini.  Akupun pergi bukan tanpa alasan, sebabnya adalah perasaan terhadap seseorang itu selalu muncul ketika aku melihat berbagai macam hal disana. Kini aku pulang berharap tak ada lagi perasaan itu.

Namaku adalah donna, umurku 35tahun, aku belum menikah dan mengurungkan niatku untuk menikah. Entah kenapa ketika kekasihku melamarku aku katakan tidak padanya. Aku berkerja freelance,  mendesain rumah dan Taman.

Perasaan kembali ke kota ini rasanya ada sedikit rasa rindu yang dilepaskan dan ada rasa sedih. Beberapa kenangan terlintas dibenakku. Tentang masa kecilku, teman-temanku dan bahkan kau. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengistirahatkan pikiranku, namun bayangan orang-orang terdekatku tiba-tiba saja muncul.

Sesampainya dirumah aku langsung bersiap. Aku ingin melihat wajah sahabat-sahabatku walau dari jauh. Aku ingin melihat wajah kota ini.

"Donna,  istirahat lah dulu. Baru nanti kau berkeliling,  tampaknya wajahmu sedikit pucat. "
"Tak apa ma. Aku sangat rindu kota ini. "

Aku berkeliling dengan motor adikku. Tak selancar dulu memang,  karena hampir 10tahun aku tak berkendara motor. Pelan saja kecepatan motorku, sambil Melihat perubahan-perubahan gedung, Taman dan orang-orangnya. Entah tiba-tiba tanpa aku sadari Aku datang ke Taman yg kita buat.

Disana pepohonan yg kita tanam sudah sangat rimbun, membawa angin sejuk untuk berputar-putar disana. Bunga begitu cantik menghiasi jalan jalan setapaknya. Toko toko dan penyewanya masih orang sama. Makanan dan rasanya persis seperti dulu.

Aku memberanikan diri untuk melihat lebih dekat,  melangkahkan kaki dengan perlahan. Menghirup udara dalam-dalam. Aku teringat ketika kita beradu pendapat soal warna bunga. Akhirnya kau yang mengalah seperti biasa. Bunga Mawar putih dan kuning yang akhirnya kita tanam disana. Tanpa sadar aku memandang sebuah sepedah listrik. Berwarna emas dan bertulis Taman emas. Sepedah itu tak terawat, bannya kempes dan beberapa bagian berkarat.

Aku berlari menjauhi tempat itu sampai menabrok seseorang.

"Donna, kau sudah kembali? "
"Alin? "
"Oh syukurlah kau sudah kembali,  mari ikut aku. "
"Tidak aku mau pulang. "
Alin justru menarikku mendekati tempat tadi aku terpaku.
"Bu sun,lihat ini siapa yang datang?"
"Anakku donna. Ibu sangat rindu kamu nak. Kenapa tidak memberi kabar selama ini? "
Tangisku tumpah, bu sun bukanlah ibuku tapi dulu hampir setiap hari kami berkreasi ditempatnya, menyiapkan acara, membahas pekerjaan. Beliau sudah menganggap kami ini anaknya.
"Maaf kan saya bu. "
"Lihat ini sepedahmu sampai rusak karena tak pernah terpakai,  kau ingat foto ini?  Foto pertama hari terakhir pengerjaan Taman ini? Ibu selalu sedih melihatnya, karena kau dan zul tidak ada."

Aku menyentuh foto itu, memperhatikan setiap ekspresinya disana. Kami sangat bahagia saat itu.

"Kenapa kau pergi nak? "
"Maafkan saya bu saya tidak bisa bicara soal itu. "
Aku terus saja memandang foto itu. Lalu aku teringat soal sepedah.  Aku mendekatinya dan menyentuh stangnya.

"2 hari setelah kamu pergi, zul datang,  ia duduk terus disana sesekali dia membersihkan sepedah itu kadang sekedar menyentuhnya saja. Ibu mencoba bicara dengannya beberapa kali tapi setelah menunggu berbulan-bulan akhirnya iya menitipkan sepedah ini. Berpesan ia kepada ibu. Jangan dipindahkan, mohon dijaga sampai kau dan ia kembali bersama."
aku tau beratnya bu sun menceritakan kejadian itu.

alin memelukku. "Ada apa dengan kalian sebenarnya? "
"Kami memutuskan berpisah."
"Tidak mungkin kau sangat dekat dengannya,  apa kau tak merasa berat melepasnya? "
"Dia yang meninggalkanku terlebih dahulu. Ingat kah ketika aku menghancurkan semua bunga Mawar itu?  Hari itu dia menikah, tidak memberi tahuku sama sekali, tidak pula menceritakan soal rencana itu. Aku merasa dikhianatinya. Kami sudah berjanji saling jujur tentang apapun itu, tapi dia mengingkarinya.
"Maaf aku tak tahu soal itu,  aku baru dengar dia sudah menikah ketika dia tak muncul lagi disini, dia menutupnya rapat-rapat soal itu. "
Aku bangkit dan menghapus air mataku.
"Aku tak bisa berlama-lama disini. "
"Ah tunggu aku ingat dia menitipkan 2 amplop kepadaku. Sebentar aku cari dulu. "

Alin masih sempat mengajakku bercanda. Dia memberiku pilihan 2 amplop. Berwarna coklat dan pink. Aku memilih yg coklat lalu membaca isinya.

Dalam setiap kisah manusia akan ada putusnya silahturahmi tapi tak ada hilangnya kata sahabat.

Aku terdiam. Merenung sebentar. Lalu menatap alin. Alin langsung memberiku amplop yg lainnya.
"Buka yang ini juga,  pilihanmu tepat seperti perkataannya. "

Aku salah, aku yang duluan meninggalkanmu. Aku pula yang salah berpaling. Aku menyadari kesalahanku dan menerima hukumanku. Menunggumu.

Aku langsung meninggalkan alin.  Mencoba menahan air mataku agar tak keluar. Alin menarikku dan berkata.
"Dalam waktu dekat dia pasti datang,  pasti ada seseorang yg menyampaikan kepulanganmu padanya." alin berteriak kepadaku.

Aku mencoba mencari jawaban di hatiku, tapi pikiranku yang berkata, sudahlah lupakan saja.

AKu mengurung diri dikamar. Membaca buku-buku lamaku. Lalu seseorang datang dan memberikan kabar kalau bu sun mengadakan selamatan di warungnya. Dan mengundangku untuk datang. Aku sudah menolaknya tapi orang itu terus saja memaksaku berkata iya akan datang.

Dengan berat hati aku datang kembali ke Taman itu.
Ketika sampai disana, warung itu sudah ramai. Karpet sudah digelar. Rata-rata yg duduk adalah anak-anak muda yg tak aku kenal.  Tapi ketika aku mengucapkan salam pada bu sun, dan beliau memanggil namaku semua mata tertuju padaku, semua suara menghilang begitu saja. Aku melihat mereka dan mereka kemudian berbicara lagi.

Kali ini aku tak melihat sepedah itu terpajang di depan warung. Tapi diletakkan di samping warung, dengan keadaan lebih bersih. Ketika aku terpaku pada motor itu seseorang menepuk pundakku.

Samil tersenyum. Samil adalah orang pilihan kami untuk menjaga keadaan Taman itu. Aku langsung memeluknya dengan senang hati. Tubuhnya tampak lebih besar dari dulu ketika kami bersamanya. Samil tersenyum lalu berbisik.
"Aku sangat rindu sahabatku yang satu ini. "

Selama pengajian aku terus terbayang soal zul. Dan mataku selalu tertuju pada sepedah itu. Sepedah yang dulu kita buat dengan susah payah dan kita naiki sambil tertawa. Mengingatnya bukan membuatku tertawa tapi aku menangis tanpa suara.

Sudah hampir sebulan aku tinggal. Aku jarang keluar rumah. Sesekali alin dan samil mengunjungiku. Mengajakku bercanda dan tertawa.

Ketika aku menemani ibuku ke supermarket aku bertemu seseorang yang aku tak ingat siapa dia. Dia hanya bilang, zul akan kembali untuk ku.
Aku tak menghiraukannya.

2 minggu kemudian alin meneleponku. Mengatakan zul sedang sakit parah di rs. Alin memaksaku untuk datang. Dia menjemputku,  Akhirnya aku kuatkan diri untuk datang.

Sampai di rs aku seperti kehilangan kesadaran, aku hanya mengikuti tarikan tangan alin. Aku tak percaya kalau keadaan dia seperti yang diucapkan alin.
Aku lihat kami menuju ke ruangan ugd. Dari pintu aku bisa melihatmu. Kurus, pucat, tirus berambut sangat pendek. Aku tak kuasa menahan tangisku. Kenapa keadaanmu seperti itu.
Aku mendengar kau meronta ronta, Menjauhkan setiap tangan yg mencoba menyentuhmu dan yg membuat aku kaget adalah ketika kau justru memanggil namaku. Terus dan trus kau ucapkan namaku.

Seorang perempuan yg berdiri tak jauh dr orang tuamu kaget ketika kau memanggil namaku. Dia langsung menagis bersama ibumu. Aku berbalik badan dan hendak pergi tapi alin mencegahku. Hampir setengah jam aku melihat kau berontak dan penanganan dokter akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekatimu. Menamparmu lalu memakimu.

"Kenapa memanggil namaku? Apa kau tak bisa hanya sebut nama istrimu. Kenapa juga kau bertingkah seperti ini. Biarkan dokter bekerja."
"Donna, kau kembali, kau datang kepadaku. Kekasihku kembali, sahabatku kembali, aku sudah sehat, aku sudah dapatkanlah jiwaku kembali. " lalu dia pingsan dan aku ambruk saat itu juga.

Ketika sadar aku telat berbaring ditempat tidur, aku bangun perlahan tapi tiba-tiba alin muncul dan mencegahku untuk bangun.
"Tunggulah kalau kau ingin pergi, biarkan zul tenang dulu dan diobati baru kita pulang. "
"Zul sakit apa? "

"Aku sehat sayang,  aku masih kuat seperti dulu. " suara zul menyela pembicaraan kami.
Alin berbisik kepadaku. "Sejak dia tidak muncul ketaman, entah mengapa dia langsung drop dan sering berhalusinasi. "
Tanpa sadar aku menyebut namanya, "Zul. "
"Ya tenang saja. Nanti kau boleh memakiku sesuaku. Kau boleh marah sesukamu. Tapi jangan pergi lagi.
Alin berbisik lagi kepadaku. "Zul menceraikan istrinya beberapa tahun lalu. "
"Zul kenapa kau menyakiti dirimu sendiri, bodohnya kau zul, bodoh. apa kau berpura-pura agar aku datang kesini? "
"Akan aku lakukan apapun agar kau kembali. "
Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan membuka tirai diantara kami. Tanpa sadar aku langsung menamparnya. Dia justru tersenyum.

Tak kuasa aku menahan perasaanku. Aku memeluk zul. Menangis dalam pelukannya dan zul menarik ku erat dalam peluknya.


Dia cuma berkata aku sudah menunggumu bertahun tahun kenapa kau sama sekali tidak menanyakan kabarku. Setiap hari aku datang dan menghabiskan waktuku dirumah ini. Setiap kau telp orang tuamu aku turut mendengarkan tapi tak ada namaku dalam ucapanmu.

Aku jatuh pingsan. Ketika aku sadar aku melihat dia disampingku bersama keluargaku dan keluarganya. Ibunya mendekati aku. Berkata terimalah putranya, ia sudah menerima hukuman nya selama ini. Dan dia sudah bercerai dengan istrinya.

Istrinya mendekatiku, mbak jangan jadikan aku penghalang lagi. Terima saja dia dan jadilah ibu bagi anakku. Aku menutup mata lalu memalingkan wajah.

Ibuku berkata,  sudah cukup keegoisan kalian berdua, kalian saling mencintai dan membutuhkan tapi kenapa sifat keras kalian menjadikan kalian seperti mayat hidup selama ini.

Aku hanya memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur, perkataan mereka benar dan nyatanya aku lelah berpura2 kuat berjauhan dengannya.
Dia berbaring dibelakang ku.  Memelukku dan mencium bahuku. Aku tertidur lelap hingga esok pagi.

Setelah itu kau selalu ada disisiku. Memelukku dan memegang tanganku. Walau kita tak banyak bicara tapi seperti sudah hilang kenangan buruk kita. Kau mengajakku ke Taman kita. Kau membetulkan keadaan motormu. Aku memandang kau setiap waktu.

Beberapa hari kemudia motor itu sudah bisa jalan. Kau mengajak ku berkeliling, semua orang menyapa kita dan kita tertawa kembali.

Miss you so much

Monday, July 16, 2018

My wedding story 1

Alhamdulillah sebagai ucapan tanda syukur saya kepada Allah SWT atas karunia dan nikmatnya yang tak bisa saya dustakan.

Akhirnya doa saya perlahan dibukakan jalan untuk dikabulkan. Sebentar lagi saya dipinang laki-laki yang saya seleksi baik-baik. Saya mengenal laki-laki itu sejak akhir tahun 2009, tapi baru bertemu pada tahun 2010. Dari awal saya kenal dengannya, saya merasa akan berjodoh dengannya. Tahun 2010 saya pernah pacaran dengannya hanya 5 bulan. Saya merasa terbebani dengan hubungan serius, sebelumnya saya belum pernah punya hubungan serius dengan seseorang. Tidak pernah baper, nangis-nangis karena pengen ketemu atau keselnya setengah mati karena chat gak dibales. Saya masih ingat betul kenapa saya putusin dia. Dari hari sebelumnya dia tidak ada kabar, di wa atau pm tidak ada balasan. Saya sepanjang hari menahan tangis sampai terbesit sebuah pertanyaan dalam hati saya. Kenapa sampai nangis dia kan bukan suami kamu?

Saya memutuskan mengakhiri hubungan via sms saja, kalau ketemu pasti saya cuma diam atau menangis (saya tidak pernah nangis didepan orang lain). Untung saja saya pergi latihan silat, teman2 saya membuat saya bisa menahan tangis hingga membuat saya tertawa.

Setelah itu laki-laki itu mencoba minta maaf dan terus menghubungi saya. Tapu saya block saja no hpnya. Selama 3 hari saya menangis dan banyak merenung tapi setelah itu saya lebih bersikap santai. Seminggu kemudian saya baru membuka block no hpnya dan tak lama dia menghubungi. Yah sekedar basa basi tanya kabar. Berkali2 setelah itu dia meminta menjalin hubungan, tapi saya selalu menolak.

3 bulan setelah itu "duarrrr" bagai petir menyambar ditengah bolong. Firasat saya bahwa dia memilih yang lain dan ketika saya hubungi terang-terangan dia berkata menemukan yang lain. Saya hampir menangis, banyak-banyak ibadah membantu saya ikhlas.

2 minggu kemudian dia menghubungi saya. Berkali-kali saya reject tp dia terus menghubungi. Dia cuma ingin bilang kalau gak kuat sama yg kemarin. Baru seminggu jadian udah minta ini itu. Saya sih cuma ketawa.

Beberapa bulan kemudian kami dekat lagi tapi aku menolak untuk berpacaran. Alasanku ingin langsung menikah saja. Kalau dia tak serius lebih baik berteman. Selama beberapa bulan banyak kejadian tak mengenakkan terjadi. Tapi entah kenapa sering sekali nama dia tersebut dalam doa.

11 sep 2011 seperti biasa kita chatting, saling curhat, sampai akhirnya kami mengungkapkan perasaan masing2. Aku mencoba jujur. Perasaanku masih tak bisa lepas darinya. Akhirnya kami berhubungan kembali.

2018. Sudah lama kita berhubungan, sebenarnya aku sudah lelah dr beberapa tahun yang lalu tapi setiap bertemu ada rasa yang membangkitkan energi dan membuat aku lupa soal rasa lelah. Aku seperti jatuh cinta lagi dan lagi. Sampai adikku ulang tahun kau datang.

Malam 11 april 2018. Kau ingin menyatakan sesuatu tapi aku sudah memintanya duluan. Kau menyatakan ingin meminangku segera. Saat lebaran kau menunjukkan niatanmu meminangku kepada keluargaku. Alhamdulillah sambutan sementara yg baik. Dibilang cantik segala. Padahal kan foto sama aslinya beda.

Setelah lebaran mama bertanya kenapa aku gak kerumah kamu, aku bilang ya nanti habis mereka pulang dr purwakarta. Mama nanya soal kita, aku jawab ya dia pengennya mama yg nanya duluan. Jawabku sambil tertawa.

seingatku kau 2x kerumah, mau bicara soal kita tapi tak tahu darimana memulainya sampai akhirnya 23 juni mama yang langsung bertanya dan kau mengutarakan niatmu padaku. Aku tak bisa menahan perasaan senang apalagi ketika mama yang menanyakannya lebih dulu dan papa mengiyakan niatanmu.
27 juni, akhirnya aku kerumahmu dengan suasanya berbeda denganbyg dulu, kalau dulu aku datang dengan marab tapi kini dengan perasaan senang apalagi keluargamu menyambutku. Rasanya hanya ada sedikit rasa canggung.

Bersambung...

Setia berbuah cinta

Malam kelabu tak lagi mengganggu
Menunggu tak lagi membuat ragu
Hingga saat itu aku akan menunggu
Sampai ada kau disisiku

Ingat saat saat dulu
Saat muda tak tahu malu
Saat rindu tak mau tahu
Saat kau menjauh

Aku dulu menangis
Aku dulu mengemis
Aku dulu meringis
Aku kini bersemi

Setia itu kini berbuah
Rasa manisnya tak lenyap jua
Tak hilang juga rasa lainnya
Hanya saja aku hanya ingat satu rasa

Buah apa yang lebih manis dari gula?
Buah apa yang lebih harus dari mangga?
Buah apa yang harganya mahal?
Buah itu cinta

Setia itu berbuah cinta
Cinta yang seraya semerbak
Cinta yang bergelora
Cinta yang sahih

Setia itu berbuah cinta
Hingga kita sah
Sebagai pasangan
Saling setia

Love you yas