Tuesday, January 13, 2015

Pria Misterius

Pagi itu tiba-tiba saja tetangga belakang rumah pindah, padahal sebelumnya tak ada kabar soal kepindahan tersebut tapi entah mengapa mereka pindah tiba-tiba.
"Iya kami juga sebenarnya berat meninggalkan rumah ini, tapi ya terpaksa."
"Terpaksa kenapa bu?"
"Pemiliknya yang baru membeli rumah kami dengan nilai yang bisa merubah hidup kami menjadi lebih baik."
"Oh, ya bagus bu, semoga ditempat ibu yang baru bisa menyenangkan ya bu."
"Iya neng, Terima kasih."
Aku pergi setelah mengucapkan perpisahan dengan tetanggaku yang dari kecil sudah kukenal. Aku jadi penasaran mengenai siapa yang membeli rumah itu, mengapa ia mau membeli rumah biasa dengan harga mahal, pasti ada maksud tertentu.

Sorenya beberapa orang datang kerumah itu, membawa bahan-bahan bangunan dan beberapa orang berpenampilan seperti kuli.

"Ma, mereka itu siapa?"
"Mungkin suruhan orang yang beli rumahnya Bu Eli."
"Mama tau siapa yang membeli rumah itu?"
"Mama sudah tanya beberapa tetangga katanya belum pernah ada yang melihatnya, rumornya dia masih muda."
"Oh." Aku mendekati salah seorang yang terlihat seperti pimpinan kuli-kuli itu.
"Sore Pak, mau direnov Pak rumahnya?"
"Sore mbak, iya saya disuruh desain ulang, kalo perlu dibangun ulang."
"Oh, orang kaya ya pak yang beli?"
"Ya kayanya gitu mbak, rumah kaya gini aja dibeli mahal banget. Udah kaya masih muda lagi."
"Oh begitu."
"Waduh maaf nih mbak saya keceplosan, harusnya saya gak boleh bicara apa-apa."
"Hihihi, saya akan jaga rahasia bapak, saya tinggal dibelakang rumah jadi gak papalah tau sedikit soal tetangga baru."
"Iya mbak, permisi saya harus sudah mulai kerja, dalam 2 minggu sudah harus jadi."
"Wah, kalau gitu silahkan pak dilanjutkan, saya yang permisi."
Aku memang tertarik sih dengan tetangga baru, bikin penasaran, katanya masih muda dan kaya, tapi kok gak mau diungkap jati dirinya ya, tapi aku tak ambil pusing, bahkan tak pernah lagi aku menengok pembangunan rumah itu, kata mama sih sudah mau selesai. Berarti bagus juga ya kontraktornya.
Seminggu kemudian mama diundang selametan rumah berlantai 3 itu, katanya tak sedikit yang diundang, beberapa warga dari rt lain dan tamu dari luar kota juga hadir, em makin menarik saja kasus ini, siapa sebenarnya orang kaya itu?
"Ma gimana acaranya?"
"Em Makanannya enak-enak semua, ada tuh didapur, bahkan orang2 se rt dapat lebih makanannya."
"Apa yang punya rumah datang? Aku penasaran siapa sih yang beli rumah Bu Eli."
"Kayanya yang punya rumah gak dateng deh, tadi juga yang kasih sambutan cuma pegawainya."
"Lah aneh banget."
Sudah sebulan tidak ada kegiatan dirumah itu, rumah yang tadinya bikin orang berkesan termasuk diriku, sekarang tampak suram karena tak ada yang menempati. Baru pada bulan kedua, beberapa orang datang. Mengaku akan membersihkan rumah itu sekaligus mengatur perabotannya. Entah mengap mereka mengajakku terlibat kali ini, padahal sudah beberapa kali aku menolaknya, mereka tetap memaksa.
Rumah itu tiba-tiba saja menjadi tempat favoritku, perabotannya, desainnya terutama kamar utamanya, begitu besar, mewah dan atapnya bisa terbuka, benar-benar menjadi favoritku. Malam setelah membereskan perabotan dirumah itu, aku dan orang-orang yang datang membantu disambut diruang tengah, dihidangkan makanan enak sampai kami tak bisa menolak untuk tak makan lagi. Ada yang mengganggu hatiku, dirumah itu hanya ada lukisan, tapi tidak ada foto. Mungkin foto pertama yang akan dipajang adalah foto kami, karena setelah kami selesaika tugas kami, kami dipotret beberapa kali dan diberitahu bahwa akan dipajang dirumah itu.
Tiga bulan kemudian terjadi hal aneh, beberapa orang berseragam polisi datang kerumah itu, memeriksa setiap jengkal dari rumah itu, diduga pemiliknya adalah penjahat lelas kakap. Aku kaget dengan berita itu karena setiap bulanwarga sekitar selalu menerima hadiah-hadiah dari pemilik rumah tersebut. Saya rasa pemiliknya tentu bukan seorang penjahat, mana ada penjahat menarik perhatian seperti itu, dengan membangun rumah mewah dan membagi-bagikan hadiah. Tapi mungkin saja kalau dia seorang yang eksentrik.
Setelah kejadian itu tak ada lagi peristiwa yang menarik perhatianku, saat ini sedang genting aku hampir kehilangan pekerjaanku setelah perusahannya dijual. Aku dipindah tugaskan dari administrasi menjadi manager diluar kota, tak lama tapi hanya beberapa bulan, setelah itu tak tau bagaimana nasibku.
"Selamat pagi bu, ibu dipanggil ke kantor pusat, ibu diminta membawa semua barang pribadi."
" Mendadak sekali ya mbak."
"Iya bu, ibu hanya punya waktu 3hari untuk menghadap bapak."
"Ya baik tiga hari lagi saya akan menghadap bapak."
Perasaan aneh menghinggapi diriku, kejadian-kejadian tak masuk akal selama beberapa bulan ini menjadi lintasan ingatan dipikiranku. Rumah itu, pekerjaan, dan sekarang pemilik baru perusahaan ingin bertemu denganku.
"Kok dadakan sekali kamu pulangnya?"
"Iya ma, dipanggil kantor pusat, entah dipindahkan atau... Dipecat."
"Ya semoga hal baik yang terjadi."
"Ya ma aku mau istirahat dulu, besok pagi aku mau langsung ke kantor pusat."
Malam itu aku benar-benar tak bisa tidur, pikiranku kacau, entah apa yang aku rasakan, aneh saja pokoknya.
"Pagi bu, ibu sudah ditunggu didalam."
"Terima kasih mbak."
Aku berjalan pelan keruangan yang ditunjukan sekretaris tadi. Rasanya benar-benar tegang, belum pernah aku seperti ini.
"Selamat datang Nona Raisa Marwan atau saya panggil dengan Mara."
Aku terkejut dengan kata "Mara." Nama itu hanya seorang yang tau, teman lama, sangat lama mungkin sudah 10rahun aku tak bertemu dengannya, Raka Arya.
"Maaf panggil saja saya Raisa."
"Aku lebih suka memanggilmu Mara."
"Raka?"
"Ya ini aku."
Aku sampai menutup mulutku dengan tangan, terkejut karena orang yang aku temui adalah Raka.
"Mengapa terkejut seperti itu?"
"Kemana saja kau Raka selama 10tahun ini, menghilang begitu saja."
Raka memelukku dari belakang, "aku selalu ada dihati kamu selama 10tahun ini kan?"
"Lepaskan, nanti ada yang melihat." Aku melapaskan pelukkannya dan mengambil jarak.
"Siapa yang akan melihat? Tak kan ada yang berani melihat, aku bosnya. Hahaha."
"Jadi kau bos?"
"Ya tentu saja, bukankah ini yang kau inginkan untukmu, menjadi kaya, dipandang, baik hati."
Aku terdiam, apa yang dia katakan adalah ucapanku dulu sebelum dia menghilang.
"Apa maksudmu?"
"Hanya menunjukkan kalau aku mampu jadi laki-laki seperti yang kau inginkan."
Aku terkejut dengan kata-katanya, sampai  berdiriku juga goyah.
"Mengapa diam? Aku sudah membelikan kau rumah dan perusahaan ini, sekarang aku pantas menjadi suamimu kan?"
"Raka, dulu bukan maksudku berkata seperti itu, maksudku adalah..."
Belum aku menyelesaikan ucapanku Raka sudah berteriak.
"Apa maksudmu selain itu? Selain kau mengatakan aku tidak pantas untukmu?"
"Bukan itu maksudku, maksudku kau bisa bertemu dengan gadis manapun yang kau suka yang juga menyukaimu, yang menyayangimu."
"Bukankah kau menyukaiku, menyayangiku?"

~bersambung~

No comments:

Post a Comment