Friday, April 1, 2011

Hidup Berperasaan

Dalam kota yang tak ia kenal, wanita yang tengah hamil besar itu berusaha hidup dalam kepedihan hatinya, hanya bayi dikandungannya yang membuat ia bertahan hidup.

5 tahun kemudian, ia tengah merayakan ulang tahun anak satu-satunya, anak laki-laki berparas tampan, bergurat tegas dan bermata cemerlang.

"Ghilbran, selamat ulang tahun ya sayang." Satu persatu ucapan dan kecupan dari teman-teman Jhiya, ibunya Ghilbran diterimanya.
Ghilbran selalu mengucapkan terima kasih dengan senyuman manisnya.

"Aku mengumpulkan kalian disini untuk memberi tahukan sesuatu, untuk beberapa bulan kedepan aku dan anakku akan kembali ke tangerang." Ucap Jhiya ketika mereka makan bersama.

"Kak Jhiya benar mau kembali kesana? Bagaimana kantor kita?"

"Aku akan tetap melakukan pekerjaanku, kita masih bisa melakukannya walau dengan jarak jauh. Ada yang harus aku lakukan disana." Jelas Jhiya.

"Apa kak Jhiya akan,,,em,,,maaf sebelumnya apa akan menemui mantan suami kak Jhiya?" Tanya Sony, salah satu anak buahnya Jhiya.

"Mungkin Son, tapi yang pasti aku akan menemui orang tuaku disana, mereka ingin melihat Ghilbran dan kawan karibku akan menikah sebulan lagi begitu juga dengan adikku yang akan menikah bulan juni nanti." Jawab Jhiya.

"Izinkan salah satu dari kami menemanimu kak, karena bagaimana pun kau benar-benar sudah kami anggap sebagai kakak kami, memberi kami tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan dan hidup yang tidak pernah bayangkan." Kara menghentikan omongannya sebentar. "Kami tidak ingin terjadi sesuatu padamu kak."

"Kara, Sony, Abiyan, Nayla dan Akbar. Aku akan baik-baik saja disana, aku bersama keluargaku disana, bila suasana memungkinkan akan aku ajak kalian kesana. Jangan khawatir ya."

"Tante, om Ghilblan mau ketemu nenek sama kakek dong." Pamer Ghilbran dengan logat cadelnya.

Mereka tersenyum dan tertawa mendengar ocehan Ghilbran.

3 hari kemudian, Jhiya dan Ghilbran telah sampai di bandara Soekarno Hatta. Setelah mengambil barang-barangnya ia dan anaknya menunggu di sebuah restoran, ia munggu keluarganya menjemput sambil menemani anaknya makan siang.

"Jhiya, benarkah ini kamu nak?" Tanya seorang wanita yang rambutnya sudah mulai memutih.

"Ma...mama." Jhiya langsung memeluk wanita itu dengan berlinang air mata, "Aku sungguh rindu sama mama."

"Mama juga rindu dengan Jhiya, inikah cucu mama? Inikah Ghilbran?"

"Iya ma ini Ghilbran. Sayang ini nenek." Ghilbran langsung mengulurkan tangannya minta digendong wanita yang dikatakan sebagai neneknya.

"Ma, mana papa?"

"Ya ampun mama sampai lupa, papamu menunggu dimobil, mari kita segera kesana."

Dalam perjalanan pulang Ghilbran tak henti-hentinya membuat orang tua Jhiya tertawa.

"Jhiya, katakan pada papa tentang keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja pa, aku berusaha melupakan semua yang terjadi. Aku tak mau Ghilbran melihat kejadian itu dimasa tumbuhnya."

"Syukurlah jika seperti itu. Berapa lama kau akan tinggal disini? tak bisakah kau tinggal saja bersama kami, biarkan kami mengenal Ghilbran."

"Entahlah pa, aku belum memutuskannya, aku masih punya banyak pekerjaan disana."

Sesampainya di rumah.
"Jhiya, kangen kamu."

"Gimana kabar kamu Shin?"

"Baik kak, mana keponakanaku yang lucu itu?"

"Ini Ghilblan tante." Jhiya menirukan anaknya berbicara.

"Ya ampun lucunya, sini tante gendong sayang." Shin mencium Ghilbran dan langsung memeluknya.

"Mari masuk Jhiya." Ajak mama dan papanya.

"Ini benar-benar seperti keajaiban, akhirnya aku kembali kerumahku." Jhiya meneteskan air mata.

"Jhiya, bagaimana kabarmu?" tanya Exel adiknya Jhiya yang segera memluk Jhiya.

Jhiya hanya tersenyum dan tak menjawab.

"Shin, kapan aku dikenalkan dengan calon suamimu?" Tanya Jhiya seraya mengambil Ghilbran dari gendongan Shin.

"Mungkin besok baru ia kemari, sibuk sekalia dia bekerja akhir-akhir ini." Jawab Shin sambil terus menggoda Ghilbran.

No comments:

Post a Comment